Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Parenting

Bayar Cashless QRIS Saja, Bisa untuk Semua Aplikasi

Pernah nggak sih, kamu keluar rumah, terus nggak sadar kalau kamu nggak bawa dompet?  Lalu di tengah udara panas yang menusuk kulitmu, kamu mampir ke toko kecil untuk membeli minuman dingin. Eh, pas mau bayar baru sadar cuma bawa HP. Aku pernah tuh seperti itu. Aduh bagaimana ini, antrean di kasir udah panjang, tadi udah antre lama, minuman kemasan favorit udah di tangan dan dahaga di kerongkongan sudah tak tertahankan.  Masa nggak jadi beli, sih? Lima belas menit terbuang sia-sia saja kalau begitu.   Aha! Aku melihat logo QRIS di meja kasir. Kodenya seperti ini, nih. Contoh QRIS Logo Seketika masalahku terselesaikan. Aku bisa membayar belanjaanku dengan cashless . Nggak jadi deh mau minum di rumah saja, pulang ke rumah kan jauh.  Mana terik sekali ini mataharinya. Bisa-bisa kalau aku tidak minum sekarang, pingsan aku di tengah jalan. Aduh kok bisa lupa sih tadi bawa dompet, untungnya masih bawa ponsel dan baterainya penuh serta kuota masih aman. Aku buru-buru cek saldoku di aplikasi p

Family Project Day 5 (Watching Cartoon)

My children loved to watch cartoon on television. Everyday they watch cartoon. Actually by watching cartoon, it can improved our children intellegence. Depends on what kind of cartoon, they watched. Cartoon talks much. So it will boost our children language skill. Our children just simply can immitate the words being said by the cartoon on TV. Eventhought sometimes they don't understand the meaning of the words, by the end of the cartoon showed they will understand. Language skill is one of the Intellegence Quotient (IQ). Cartoon also give many example of feelings. It is common that in cartoon, there will be a bad and a good person. The bad guy usually mad. The good person usually brave and many other feelings. By watching cartoon, our children will know many kind of feelings. It will be greater if we accompany them and explain it to them. This will increasing our children Emotional Quotient (EQ). Cartoon is created by human. Eventhough it seem like have a life and real on TV, w

Family Project Day 4 (Public Transportation)

My children rarely using public transportation. We regularly go by a car. According to that, we as a parent feels, it is our obligation to introduce public transportation to our children. By using public transportation it will increase our children intellegence. Intellegence Quotient (IQ), specifically on interpersonal skills can be improved by using public transportation. By using it, it makes our children have to interact with other passengers in the bus/train/minivan. Our children will know that the elderly will be given the seat by the younger person then the younger person will stand. Emotional Quotient (EQ), also can be improved by using public transportation. It asked the passenger to orderly queueing when we want to enter the bus/train. And also when we get off the bus/train. When we used our car, there is no need for queued up. Sometimes queueing can make our mood going bad. That the important of EQ here. When we used to be orderly queued up then having to queued up will not

Family Project Day 3 (Swimming)

Most of the children like swimming. My children love to swim too. By swimming, we can teach them this 4 kind of intellegence. Let me show you how swimming can be our family project to increase the intellegence of our children to be success and happy in life. Many of us have known about Intellegence Quotient (IQ). There is part of the IQ, we called bodily kinesthetic. Swimming asked well coordination between legs, arms, and breathing. So by doing swimming regularly, it will increased your children IQ especially in bodily kinesthetic aspect. Swimming make your children brave. It can boost their self esteem when they can go from one side of the pool to other side of the pool. It also control their emotion of fear being drowned. It makes them recognizes their feeling for bravery and fearness and also the joy when they can conquer their fear succeeded going to other side of the pool. Your children Emotional Quotient (EQ) increased. We can inform our children why swimming can bring us clo

Family Project Day 2 (Going to The Mall)

Going to the mall can sharpened our children intellegence. But it depends on how we give them the explanation and experience about this 4 type of intellegence. First, the intellegence quotient (IQ). We can do simple math for 3-5 years old children when we are in the mall. When we used elevator, we can asked them to press which floor we are going to go. There will be button 1-3 at minimum, then G for ground, and perhaps UG for upper ground, B for Basement, P for Parking etc. We learned english language too right. Second, the emotional quotient (EQ). Many things will attract our children attention especially toys or paid playground. Before we go to the mall, we have to give them explanation that we will only do this/that, buy this/that etc. Make them promised to do what we had already agreed before entered the mall. By the time they entered the mall and see many things that they want to buy, just remind them their promised. It will boosted their EQ especially at their self awareness pa

Family Project Day 1 (Happy Vs Success)

In my opinion, there is a slightly different meaning between happy and success. Success doesn't always make you happy. Perhaps it's make you happy, but not for a long time. It just make you happy for temporary. Why? Because there will be another goal to pursue, when it can't be achieved, you are happy anymore. Success is a condition when you achieved your goal. But happy is a condition when you choose to be. You can still be happy when you are not succeed. See, the different? There is 3 stages of happy life. First pleasant life, secondly good life and the last one is meaningful life. So do you want to be succeed or happy? Do you want your beloved one to be succeed or happy? How about both of them. Can we get them both? Yes, of course, but we have to give the lesson learned to our child to make them both succeed and happy. But first of all, hopefully the parent should had already succeed and happy. The important lesson we should encouraged or children to master is Life Int

Melatih Kemandirian (Toilet Training) Day 10

Bagaimanakah kehebohan semalam? Apakah si adik masih tidak mau pipis? Apakah kakak dan adik masih mengompol??? Bahagia tak terkira pagi ini anak-anak dibangunkan sahur, daaaaaan jreeeeeng popok mereka masih keriiiiing. Yeaaaay senang sekali. Berkah Ramadhan, bangun pagi-pagi, anak-anak belum ngompol. Tak perlu malam-malam dibangunkan untuk menyuruh mereka pipis demi tidak ngompol. Semoga ini dapat berlanjut teruuus menerusss sehingga selepas Ramadhan ini anak-anak benar-benar tuntas lepas popok. Amin.

Melatih Kemandirian (Toilet Training) Day 9

Setelah semalam berakhir dengan drama karena si kecil menangis2 tetap keukeuh dengan pendiriannya tidak mau pipis setelah minum, padahal kalau dipikir, sudah bangun kan, lalu sudah minum trus lanjut ke kamar mandi apa susahnya untuk pipis. Sudah dicontohkan oleh ibunya yang setelah minum juga ikutan pipis. Bahkan kakaknya yang terbangun karena tangisan si kecil pun juga ikut pipis sambil ikut membujuk adiknya yang kecil untuk pipis. Hari ini aku pun akan menggunakan strategi yang sama. Akan tetap meminta anak-anak pipis di malam hari apalagi jika mereka terbangun meminta minum. Si adik lucunya ketika bangun pagi-pagi, dia memegang tanganku sambil berkata maaf ya mama sambil dicium tanganku. Sepertinya dia sadar dan teringat semalam menangis meraung-raung ketika kuminta untuk pipis. Aku pun berkata nanti malam gak gitu lagi ya, kalau diminta pipis, ya pipis ya. Iya mama, katanya. Bagaimana hasil toilet training malam ini? Kita tunggu hasilnya besok yah.

Melatih Kemandirian (Toilet Training) Day 8

Setelah 7 hari berfokus kepada ketrampilan kemandirian untuk membereskan mainan pada kakak. Pada hari ke-8 ini, ketrampilan untuk bisa tidak ngompol menjadi fokusku untuk ke adik dan ke kakak sekalian. Sebenarnya toilet training ini sudah cukup lama kuperkenalkan kepada kedua anakku ini. Namun timbul tenggelam. Terkadang sukses namun lalu gagal lagi. Perkembangan toilet training ini sebenarnya sudah dimulai dari tahun lalu untuk kakak. Kakak yang saat tidur siang pun bisa ngompol saat ini sudah tidak ngompol lagi. Namun saat malam, kakak benar-benar tidak terasa ketika mengompol. Sedangkan si adik walau usianya terpaut 2,5 thn lebih maju toilet trainingnya. Aku pun bertekad untuk melaksanakan lagi toilet training ini. Semoga kali ini lulus dengan mantap kedua anakku dan tidak mengompol kembali. Hari pertama ini masih memakai popok namun sebelum tidur kuminta pipis terlebih dahulu dan ketika terbangun malam untuk meminta minum, aku sekalian meminta untuk pipis di kamar mandi. Namun

Melatih Kemandirian (Membereskan Mainan) Day 7

Hari ini kakak meminta untuk dapat bermain mewarnai dengan cat air lagi. Aku pun teringat dengan kejadian sebelumnya ketika kakak bermain mewarnau dengn cat air. Cukup rapi dan tidaj berceceran dimana-mana. Akhirnya aku pun meluluskan permintaannya dengan syarat jangan berebut dengan adik ya. Kuasnya kan ada dua, satu kecil dan satu besar. Akhirnya mereka pun bermain mewarnai dengan cat air tanpa kuawasi. Beberapa saat kemudian, kutengok mereka. Voila ternyata mereka tidak mewarnai dengan cat air beralaskan kardus seperti beberapa hari lalu yang aku contohkan. Alhasil lantainya berwarna-warni terkena cat air. Setelah mereka selesai mewarnai, seperti biasa aku meminta kakak untuk membereskan seperti semula, termasuk membersihkan lantai yang berwarna-warni tersebut sambil memberikan tissue. Ternyata kakak bisa loh membereskan dengan mendekati sempurna seperti sedia kala. Hebat. Kakak pun memberikan semua peralatan kepadaku yang sudah bersih untuk aku simpan di atas lemari supaya tidak

Melatih Kemandirian (Membereskan Mainan) Day 6

Kakak tiba-tiba mendatangiku dengan beragam cat air dan kuasnya. Dia meminta izin untuk boleh bermain mewarnai dengan cat air itu. Terbersit langsung di pikiranku, bahwa aduh bakal berantakan seperti apa ini. Nanti air ada dimana2, catnya bisa kena baju dan tumpah ke lantai. Fiuh. Akhirnya, kuputuskan untuk menemai mereka mewarnai dengan cat air. Kuajari bagaimana caranya supaya tidak berantakan. Airnya sedikit saja. Memakai alas kardus sehingga tidak terkena lantai. Dan meminta kakak berjanji untuk membereskan semuanya seperti semula setelah mewarnai dengan cat air. Kuasnya dicuci sampai bersih dan dilap dengan kertas tissue. Ternyata kakak bisa loh, mewarnai dengan cat air tanpa belepotan kesana kemari. Dan janjinya juga ditunaikan, dibereskan kembali semuanya seperti semula. Good Job Kakak.

Melatih Kemandirian (Membereskan Mainan) Day 5

Hari ini kakak meminta berenang. Namun karena jauh, kakak berhasil dibujuk untuk bermain air saja di rumah. Nah, sebenarnya dulu sudah pernah dikomunikasikan kepada kakak kalau bermain air di rumah (di bak kamar mandi), hanya boleh membawa 1 mainan saja untuk diajak bermain bersama. Namun, kali ini aku lupa untuk mengingatkannya kembali. Alhasil buanyaaaak sekali mainan yang ditumpahkan ke dalam bak mandi tersebut. Aku pun sebelumnya juga tidak begitu mengetahui sebenarnya yang membawa mainan sebanyak itu ke kamar mandi si kakak atau si adik. Karena mereka berdua bermain bersama. Fiuuuh, akhirnya setelah mereka selesai bermain, aku minta kakak untuk membersihkan sampai bersih, membawa semua mainan ke luar dan dijemur. Good Job kakak, walau mainannya banyak yang tercerai berai, namun kakak tetap bertanggung jawab untuk membereskannya kembali.

Melatih Kemandirian (Membereskan Mainan) Day 4

Kusangka keesokan paginya, adik akan mencari-cari mainannya. Namun ternyata adiknya cuek saja. Serasa tidak kehilangan mainan. Setelah kupelajari, adik itu ingin memainkan mainan yang terlihat di depan matanya. Jika mainan itu tidak terlihat di depan matanya ya, dia tidak mencarinya atau bahkan lupa dengan mainannya. Berbeda dengan kakaknya yang hafal dengan setiap mainannya. Dia akan menanyakan mainannya ada dimana jika tidak terlihat di tempatnya semula. Untuk sementara kemandirian untuk membereskan mainan untuk si kakak patut diacungi jempol. Yeay.

Melatih Kemandirian (Membereskan Mainan) Day 3

Setelah malam kemarin, melatih kemandirian dalam membereskan mainan ini digagalkan oleh sang adik. Aku pun mempunyai strategi. Kakak yang menjadi marah-marah karena diberantakin lagi oleh si adik mainannya, aku pun memberitahunya, bahwa adik masih kecil. Tapi kamu bisa menjadi peri mainan. Apakah itu peri mainan? Setiap adik diajak untuk membereskan kembali mainannya tidak mau, maka kakak dapat menjadi peri mainan. Peri mainan itu akan menyembunyikan mainan-mainan yang tidak dikembalikan lagi pada tempatnya. Jadi adik akan bingung besok jika mau bermain, mainannya tidak ada. Kakak setuju dengan ide itu. Ketika dia menjadi peri mainan dan menyembunyikan mainan adik di kotak hitam yang adik tidak dapat membukanya. Adik pun tidak menangis karena tidak dimarahin kakaknya, mainan pun rapi. Mari kita lihat, besok adik cari mainannya gak ya? 

Melatih Kemandirian (Membereskan Mainan) Day 2

Pada hari kedua ini, kakak sebenarnya masih mempertahankan dapat membereskan mainan setelah bermain. Namun ada yang membuatnya kesal, adiknya yang masih belum genap 3 tahun masih belum bisa mengikuti peraturan yang aku terapkan sehingga ruang bermainan selalu senantiasa berantakan bahkan adik suka membawa mainan ke luar ruang bermain sehingga berserakan dimana-mana di lantai. Dia pun menjadi uring-uringan dan kesal dengan adiknya. Karena berkali-kali dia membereskan mainan, kembali berantakan lagi. Pada dasarnya, kakak adalah seorang anak yang suka dengan kebersihan dan kerapihan. Hmm, bagaimana ini ya, mainan tetap berantakan plus adiknya menjadi menangis ketika kakaknya marah karena dibuat berantakan. Jadi double runyamnya. Let's see tommorow, day 3.

Melatih Kemandirian (Membereskan Mainan) Day 1

Si Kakak sudah berusia 5 tahun. Kemandirian yang ingin kutingkatkan untuk si kakak adalah membereskan mainannya kembali setelah dimainkan. Peraturan pertama yang aku terapkan adalah: 1. Bermain hanya boleh di kamar bermain sehingga mainan yang berantakan hanya berada di dalam 1 lokasi saja. 2. Bermain mainan hanya 1 jenis dalam 1 waktu. Ketika sudah selesai, dikembalikan kepada tempatnya, baru mengambil mainan yang lain. 3. Sebelum tidur lihat kembali kamar bermainan dan ruang-ruang lainnya jika masih ada mainan berserakan, maka harus dikembalikan ke tempatnya kembali. Hari pertama, kakak sudah bisa melaksanakan ketiga peraturan tersebut. Alhamdulillah, keep the good work, Kak.

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktifku

Tak terasa 10 hari terlaksana juga tantangan komunikasi produktifku dengan anak-anakku. Membuka wawasanku bahwa menerjemahkan teori ke dalam praktek tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semoga komunikasiku dengan anak-anak, pasangan dan khususnya dengan diriku sendiri dapat senantiasa lancar dan produktif selalu hingga akhir waktu nanti. Dan yang terpenting konsisten selalu untuk dipraktekkan. Kalau lupa bisa baca-baca materi dan prakteknya di post sebelumnya. #AliranRasaKomunikasiProduktif #gamelevel1 #tantangan10 hari #komunikasiproduktif #kuliahbundasayang @institut.ibu.profesional

Komunikasi Produktif (Kalimat Empati Vs Non Empati)

Aku tuh paling gemes sekali jika kakak sudah minta gendong, padahal adeknya saja masih kuat jalan. Atau jika membawa kereta dorong yang minta naik malah kakaknya, padahal itu buat si adek. Kakak memang sering berucap aku ingin dimanja, aku ingin diturutin semua keinginanku. Jadi memang permintaannya digendong itu merupakan salah satu ungkapannya ingin dimanja. Tapi kaaaan sudah besar, sudah berat badannya. Hmm... Terkadang memang keinginan untuk dimanja itu harus kita terima dan kita sambut dengan kalimat empati. Contoh (kalimat empati): Kakak kenapa minta digendong capek ya? Hayoo tadi siapa yang minta pergi kesini? Tadi sudah janji gak gendongan loh kalau mau pergi kesini. Biasanya (kalimat non empati):: Mama gak mau gendong, tadi yang minta kesini siapa. Janjinya apa tadi?

Komunikasi Produktif (Interogasi Vs Observasi)

Duh, aku itu udah bawaan dari sononya ketika berbicara biasa saja kepada siapa saja terkesan menginterogasi (kata buanyaaak temanku). Hal ini otomatis terjadi juga ketika berkomunikasi dengan anak-anakku. Berbicara dengan intonasi dan pertanyaan interogatif itu biasanya akan terlepas kontrolnya kepada orang-orang yang sudah kuanggap dekat dan nyaman. Kalau dengan yang baru kenal sih, aku akan secara sadar mengontrol intonasi dan pertanyaan interogatifku. Nah, kalau dengan anak yang pasti dekat dan nyaman kontrolnya blong nih. Bagaimana ya? Jawabannya perlu banyak latihan. Kalau lagi sadar, Kontrol ON, namun karena sudah terbiasa maka sering tidak sadar sehingga, Kontrol BLONG. Situasi : Adik menangis dari kamar bermain. Kontrol BLONG: Kakak, kamu ngapain adik lagi, adiknya jadi menangis seperti itu? (sambil akunya tidak bergeming, hanya berteriak dari kamar tidur). atau... Adik, kamu diapain lagi sama kakak? (sambil mendatangi adik dan menatap kakak tajam). Kontrol ON: Adik,

Komunikasi Produktif (Fokus pada Solusi bukan Masalah)

Mama: Kakak sudah jam segini ini, nanti kamu telat masuk sekolah, ayo cepet mandi. Mama bilang pagi-pagi tidak ada TV kalau belum beres semuanya siap untuk berangkat sekolah. (fokus pada masalah:telat masuk sekolah) Mama: Kakak ayo mandi, cepat ya. Baju seragam sudah disiapkan disini. Makanan juga sudah siap di meja. TV mama matikan dahulu. Papa sudah siap antar kamu sekolah tuh. (fokus pada solusi: mandi cepat, tidak nonton TV lalu bersiap berangkat sekolah dengan tepat waktu) Prakteknya kalau seperti yang pertama, kakak masih males-malesan, sepertinya di pikirannya itu telat gak pa pa. Namun ketika pakai kalimat yang kedua, lebih cepat menuju kamar mandinya. So keep in mind, focus on solution not the problem.