Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label My Story

Hidup di Perantauan (Part 2)

Pada artikel sebelumnya Hidup di Perantauan (Part 1), aku sudah sharing 2 tips ala diriku Angrumaoshi cara bertahan hidup di Perantauan. Masih mau merantau? Sudah siapkah merantau? Berikut aku tulis ulang ya keseluruhan tips supaya teman-teman tidak terlupa. 5 Tips Cara Bertahan Hidup di Perantauan Ala Angrumaoshi. Make a  friend (Perbanyak kenalan). Prepare your savings (Siapkan dana darurat). Know your new place (Kenali daerahmu). Less Goods is Good (Perhatikan efisiensi dan efektifitas barang yang dimiliki). Learn the Language (Belajar bahasa lokal).  3. Know your place (Kenali Daerahmu) Via Google Maps dan Google Earth Di era digital seperti ini, sangat terbantu ya untuk mengenal daerah tujuan rantau kita, bahkan sebelum kita menginjakkan kaki disana. Kita dapat memanfaatkan google maps termasuk juga google earth. Kita dapat melihat-lihat situasi secara real di lokasi daerah rumah tempat kita tinggal di perantauan.  Begitu pula kita dapat melihat fasilitas umum terdekat seperti rum

Film Romantis "500 Days of Summer", Melihat Sisi Rapuh Seorang Pria Jatuh Cinta

Kuteringat akan sebuah film yang direkomendasikan oleh suamiku untuk aku tonton. Suamiku bukan pecinta film romantis. Jadi ketika dia sudah merekomendasikan film ini dan dia berkata, kamu pasti suka banget. Maka sudah dapat dipastikan filmnya tidak akan mengecewakan donk. Lalu aku pun menontonnya, dimulai dengan kisah seorang lelaki muda pekerja di suatu kantor lalu datang seorang wanita muda seorang pegawai baru disana. Seperti kisah pada umumnya, akhirnya mereka berdua dekat dan menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih.  Namun yang menjadi kekuatan dalam film ini adalah dibangun emosi penonton dari sudut pandang seorang lelaki yang sedang jatuh cinta. Disajikan 500 hari bersama Summer (si wanita) dari kacamata si pria dengan cukup detail. Aku sebagai wanita tak menyangka juga ternyata ketika pria jatuh cinta secara mendalam dapat seperti itu. Dunianya seperti hanya seputar Summer, mulai dari bangun tidur hingga terlelap tidur di malam hari. Sejak awal, memang tidak ada kesepaka

Berkaca Pada Kehidupan Makhluk Hidup CiptaanNya

Merenungi arti akan sebuah kehidupan merupakan sebuah proses tiada akhir selama kita masih bernafas di bumi ini. Tidak hanya kehidupan orang-orang di sekitar kita atau pun kehidupan orang-orang sukses terkenal yang jauh dalam jangkauan yang dapat kita petik pengalaman hidupnya. Namun kehidupan di luar manusia, para penghuni alam liar termasuk tingkah polah para binatang pun juga sarat makna akan arti dan tujuan dari kehidupan ini. Aku cukup senang dengan binatang. Sudah beberapa kali aku memelihara binatang peliharaan dan mengamati tingkah polahnya. Kali ini aku sedang memelihara kelinci. Apa menariknya dari kehidupan dan tingkah polah kelinci? Binatang yang lebih banyak penggemarnya untuk dijadikan peliharaan adalah anjing dan kucing biasanya. Kelinci itu bisa berumur panjang, aku paling lama memelihara kelinci hingga berusia 7 tahun. Seperti manusia, binatang juga tidak suka dikurung dalam kandang (mereka suka lepas di alam bebas). Bedanya tanpa sadar kita sebagai manusia sering me

Perempuan Pekerja di Sekitarku

Pagi ini aku bersama para bunda TK Kakak, berkunjung ke dua bunda yang baru melahirkan. Berhubung rumahnya agak dekat dengan sekolahan maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju kesana. Nyatanya agak jauh ya, untungnya kontur jalanannya menurun. Berjalan kaki bersama-sama, berdua-dua sepanjang jalan menuju ke rumah bunda tersebut, membuatku menangkap banyak pemandangan yang jarang kutemui sebelumnya. Padahal hampir setiap hari aku melewati jalan ini ketika mengantar dan menjemput kakak sekolah dengan motor ataupun mobil. Dengan berjalan kaki, kami pun menyapa ibu-ibu atau para lansia yang sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Hal demikian tentunya tak bisa kami lakukan jika mengendarai motor atau pun mobil. Silahturahmi dan keramahan sangat terasa di bumi jawa ini. Tak berapa lama aku berpapasan dengan ibu berusia 40-50 tahunan yang membawa bakul berisi sayuran menawarkan sayurannya ke rumah-rumah yang dilewatinya sambil mengetuk pintunya. Kontur jalanan cukup menanjak. Da

Ragam Kehidupan di Atas Bis Trans Jateng dan Semarang

Berkendara dengan kendaraan umum, akan memperluas pemahaman kita akan hadirnya beraneka ragam jenis dan rupa kehidupan di luar sana. Kali ini aku mengajak adik dan kakak berkeliling kota Semarang menggunakan Trans Semarang dan Trans Jateng. Apa bedanya? Trans Semarang hanya menghubungkan dalam kota Semarang sedangkan Trans Jateng menghubungkan dengan berbagai kabupaten Semarang di sekitar kota Semarang. Trans Jateng ada dengan trayek Bawen - Ungaran - Stasiun Tawang. Saat ini juga sudah ada tol dengan pintu keluar Bawen sebelum Salatiga dan setelah Ungaran, namun Trans Jateng ini melewati jalan non tol. Tarifnya cukup murah hanya 3500 dan 1000 untuk anak-anak. Cara pembayarannya pun cukup berbeda dibandingkan Trans Jakarta. Jika Trans Jakarta wajib menggunakan e-money yang di tap pintu masuk setiap halte, kalau disini tiket dapat di beli di halte atau di atas bus dengan penjaganya. Penjaganya membawa alat kecil seperti kalkulator yang dapat menggeluarkan tiket. Halte disini juga san

Dermawan di Pagi Hari

Aku cukup sering mendengar cerita tentang orang-orang berderma. Namun baru kali ini aku melihat langsung dengan mataku sendiri di suatu pagi pada awal bulan November. Aku baru saja keluar dari pelataran lobby sebuah bank besar di kota ini. Ku melihat ada seorang ibu yang berjualan dengan sepedanya di tempat parkir. Ibu ini mengajak serta anaknya yang masih kecil yang terlihat berusia sekitar 4 tahun. Ibu ini berjualan gorengan, minuman sachet lengkap dengan termosnya serta bungkusan daun pisang atau kertas coklat yang berisi nasi untuk sarapan. Tak lama kemudian aku melihat seorang wanita muda berbaju hijau yang mirip dengan salah satu seragam pegawai bank syariah. Tak jauh dari bank besar ini memang ada cabang bank syariah tersebut. Wanita muda ini terlihat memilih dan mengambil beberapa bungkusan sarapan tersebut. Lalu membayarnya dengan selembar uang berwarna merah. Ibu penjual pun menyiapkan kembalian. Namun ditolak oleh wanita tersebut seraya berlalu menuju motornya. Sang Ibu p

Ibuku Sudah Menua...

Di mata seorang anak, seorang ibu akan senantiasa terlihat segar dan kuat seperti semasa muda dulu ketika aku masih kecil. Walau rambut sudah memutih dan usia sudah senja, aku berpikir bahwa Ibuku masih sehat dan kuat seperti dulu ketika saat membesarkan ku. Termasuk saat ketika anak pertamaku lahir dan sering kutitipkan kepadanya ketika aku bekerja. Kupikir ibuku masih kuat, sekuat saat membesarkanku dulu. Namun seiring berjalannya waktu, kini kusadari bahwa tangan kuat dan wajah cantiknya kian memudar. Tak segesit dulu lagi ketika berjalan. Capek sedikit mudah sakit. Mendengar teriakan dan tangisan anak-anakku pun sudah membuatnya pusing. Salah satu keputusanku untuk meninggalkan karir kantoranku adalah tak kuasa melihat ibuku ketika walau hanya turut mengawasi anakku ketika di rumah, ternyata perilaku anakku benar-benat manja sekali. Semuanya maunya di"ladeni" sama eyangnya walau ada mba atau babysitternya. Belum kalau lagi tantrum, apalagi kalau aku tinggal dinas ber

Turut Berduka Cita, atas Jatuhnya Pesawat JT610

Mendengar berita tersebut kemarin, lalu mendapat beberapa terusan kabar melalui WA group kemarin yang memberitakan bahwa banyak penumpang ASN/PNS yang menjadi korban, menjadikanku teringat pada waktu aku dulu menjadi ASN/PNS. Tuntutan pekerjaan membuatku cukup sering dinas ke luar kota menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Seringkali aku juga mengejar penerbangan pertama. Walau standar anggaran penerbangan dinas PNS cukup untuk menggunakan maskapai G* namun terkadang penerbangan pertama tidak tersedia oleh maskapai tersebut. Maskapai LCC swasta seperti Li*n Air pun terkadang menjadi satu-satunya pilihan. Terkadang sebelum subuh sudah berangkat menuju bandara demi mengejar penerbangan pertama. Supaya dapat sampai di kota tujuan pagi hari dan langsung dapat beraktivitas sesuai tugas yang sudah direncanakan. Bagi aku yang seorang Ibu lebih baik berangkat pagi dini hari daripada sehari sebelumnya (jika memungkinkan) untuk pergi dinas dengan penerbangan pertama. Supaya waktu ber

Kembali Memelihara Kelinci

Aku adalah seorang yang cukup senang dengan binatang. Ketika kecil aku pernah memelihara kucing, karena ayahku suka sekali memelihara kucing kecil. Sudah banyak sekali jenis binatang peliharaan yang pernah aku pelihara. Mulai dari kucing, anjing, burung, kelinci, marmut, keong, ikan dan kura-kura. Aku juga suka mengamati binatang di habitatnya. Berhubung aku mempunyai halaman yang luas, banyak sekali binatang atau pun serangga yang dapat diamati. Aku lebih suka melihat binatang bebas di alam habitatnya daripada terkurung di sangkarnya. Dari sekian banyak binatang peliharaan yang pernah ku pelihara, ada satu jenis binatang yang aku paling suka. Aku paling lama pernah memelihara kelinci hingga kelincinya berusia 7 tahun. Aku sangat suka dengan kelinci. Selain karena makanannya mudah (aku tinggal memetik daun-daunan), bulunya halus dan enak dielus-elus. Bahkan usia pernikahanku pun masih kalah dengan kebersamaanku bersama kelinciku ini. Halaman rumahku dulu cukup luas, sehingga kelinci

Meluncur Menyeberangi Jurang sedalam 70 Meter

Entah sudah berapa kali kakak meminta untuk dapat naik flying fox. Aku pun berusaha untuk menurutinya. Anakku yang satu ini memang pemberani. Tidak takut dengan ketinggian. Flying fox indoor sudah sering sekali dilakukannya. Namun ketinggiannya memang hanya segitu saja. Serta feel yang didapat tentunya berbeda dengan flying fox langsung di alam yang sebenarnya. Anakku tertarik ingin naik flying fox karena menonton serial kartun Diego dan Dora the explorer. Pada kartun tersebut Diego diperlihatkan sering sekali keluar masuk hutan dengan cara naik flying fox. Diego diceritakan merupakan seorang penjaga hutan dan sering menolong para binatang yang kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Kami sekeluarga sebenarnya cukup sering berpergian ke wisata alam yang banyak menawarkam wahana flying fox. Namun ada saja kendalanya. Yang kakak masih pulas tidur di mobil ketika sampai di tempat wisata tersebut. Atau wahana flying foxnya sedang dalam perbaikan. Atau masih terlalu kecil sehingga tidak di

Satu Sakit Seluruh Isi Rumah Ikut Sakit

Kakak tiba-tiba demam lalu berlanjut batuk serta pilek. Demamnya lumayan tinggi hingga 39,9 derajat celcius. Untungnya hanya 1-2 malam, setelah itu turun, tidak demam lagi. Kakak cukup kooperatif untuk minum obat dan dikompres kepalanya. Berbeda dengan adiknya yang agak sulit untuk minum obat. Ketika demam, akhirnya kami berpisah kamar, supaya adiknya tidak ketularan. Papa bersama kakak dan aku bersama adik. Setelah demam kakak turun tinggal batuknya saja, kembali tidur bersama-sama. Nah, inilah salah satu kesalahannya, setelah kami satu kamar disaat kakak masih batuk-batuk, satu persatu kami pun menjadi sakit. Adik ikutan demam 1 malam juga hingga 38,5 derajag celcius. Aku pun dan papa juga mulai merasa tidak enak untuk menelan. Badanku juga mulai greges dan mulai menjadi bengek. Padahal semenjak kakak demam di awal-awal, kami sudah berusaha untuk meningkatkan pertahanan diri dengan minum vitamin dan peningkat daya tahan tubuh. Lalu aku pun juga memotong bawang merah dan diletakkan

Adek Bisa Minum Obat

Ketika anak sakit, akan menjadi PR banget untuk mamanya jika si anak tidak mau minum obat. Aku termasuk penganut yang kalau bisa tanpa obat, ya gak usah diminumin obat jika sakit. Sakit itu sebenarnya tanda bahwa tubuh kita sedang lemah pertahanannya dan butuh banyak istirahat. Dengan istirahat yang cukup dan asupan makanan bergizi sakit pun bisa segera hilang.InsyaAllah jika hanya panas, pilek, batuk maka aku biasanya tidak memaksakan anak untuk minum obat. Karena *upaya* untuk bisa obat itu terminum dengan baik dan benar itu, merupakan suatu proses yang cukup melelahkan.  Termasuk vitamin, segala sesuatu yg diminumkan dari pipet atau sendok obat itu, anakku sulit sekali. Butuh 2 orang untik memegangi dan supaya obat itu masuk, maka perlu dipaksa, dicekoki macam di film-film itu. Hadeuh, melihatnya membuat hati ini terasa, kok mesti begini banget ya. Padahal obatnya atau vitaminnya juga manis. Namun akhirnya sampailah pada suatu ketika ada obat yang harus diminumkan, karena ternyat

Kantor Pos Mungil Baru di Kompleks Rumahku

Walaupun saat ini sudah memasuki era digital, namun keberadaan kantor pos tetap dibutuhkan. Contohnya, aku masih membutuhkan jasa kantor pos untuk mengirimkan dokumen asli atau pun barang. Apalagi bagi seorang yang berbisnis online mengirimkan barang dagangan juga dapat membutuhkan jasa layanan pos. Aku dulu termasuk salah satu penggemar hobby filateli. Jika ada peluncuran perangko bertema khusus dan sampul hari pertama pasti akan kudatangi kantor pos besar pusat utama di daerah Jakarta Pusat sana atau di Kantor Pos Besar Bekasi. Sebelah sekolah SMPku pun kantor pos walaupun tidak besar. Jadi semenjak kecil aku sudah terbiasa keluar masuk kantor pos, apalagi aku juga hobby bersahabat pena baik dengan sahapat pena dari dalam maupun luar negeri. Segala benda pos aku kukoleksi termasuk kartu pos. Semua masih tersimpan rapi hingga ada 3 album besar. Depan rumah kakakku yang juga satu kompleks denganku mengubah garasinya menjadi sebuah kantor pos kecil. Aku pun penasaran. Hingga akhirnya

Layanan Pelanggan (Customer Service)

Beberapa hari lalu aku mendatangi layanan customer service provider jaringan telepon. Ada beberapa hal yang membuatku sebagai pelanggan merasa "wow" dengan provider ini. Sebut saja providernya Te*****el. Aku pernah beberapa kali mendatangi tempat ini. Cukup bagus dan nyaman. Namun antriannya panjang sekali. Fiuh. Sistem antriannya pun bagus. Mereka akan sms kita. Jadi bisa ditinggal untuk berkeliling ke toko-toko di sebelahnya. Namun ada yang berbeda pada kunjunganku kali ini. Ternyata begitu aku masuk terlihat di sudut kiri ada playground anak-anak. Lalu ada juga disediakan minuman. Layout ruangannya berubah total. Tempat pelayanan nasabah dengan customer service yang biasanya standart berupa meja diatasnya terdapat komputer dengan kursi kaku berhadapan, kali ini diubah menjadi meja kaca lingkar kecil dan empat tempat duduk nyaman seperti tempat duduk dan meja di cafe kopi. Aura dan suasana yang sampai kepada para pelanggan pun yang biasanya datang ke customer service mem

Bertemu Teman Lama (Sohib Kuliah)

Akhirnya bisa juga ketemuan dengan satu sohibku semasa kuliah ini. Susaaaah banget deh diajak ketemuan, sibuk banget si mba yang satu ini. Terakhir ketemu sepertinya ketika menengok krucilku yang pertama. Sedangkan krucilku yang pertama ini sudah menginjak bangku prasekolah. Usia setelah kepala 3 itu benar-benar berasa menjadi dewasa muda. Tua belum tapi sudah gak muda lagi. Umur boleh kepala 3 lebih banyak, namun rasa dan semangat masih 20an hehehe. Waktu yang hanya beberapa jam itu tidak cukup rasanya untuk menuntaskan rasa dan bertukar cerita selama terpisah jarak dan waktu. Karena bertemu langsung serta via online itu beda rasanya. Semoga disela-sela kesibukan kita semua, masih sempat untuk merajut kembali silahturahmi yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya. Karena online itu beda dengan offline. #ODOP #onedayonepost #44thpost

Selfie Tempo Doeloe

Bertemu kawan lama itu, serasa tak pernah kehabisan bahan cerita. 18 tahun tidak terasa yah, waktu telah berlalu sejak masa SMU. Aku dulu di mata Ibu/Bapak Guru itu, anak yang baik begitu pula temanku ini. Jadi kalau kita izin tidak ikut pelajaran siang diperbolehkan, hihihi. Alasannya waktu itu macam-macam. Tapi lolos-lolos saja. Kami sangat suka sekali berswafoto kala itu. Zaman dulu, belum ada Handphone seperti sekarang ini, yang sangat mudah jeprat jepret sana sini untuk berswafoto. Lain dulu, lain sekarang, butuh usaha ekstra untuk menyalurkan kebutuhan swafoto ini. Selain usaha, uang pun juga. Zaman kita SMU dulu, hits banget yang namanya photo box, photo stiker. Kalau mau berswafoto harus usaha datang ke mall terdekat dan tentunya membayar ke FotoBox tersebut. Hasil cetakannya pun terbatas dan harus dibagi-bagi. Foto pun tak bisa diulang-ulang, belum lagi harus antri. Untuk bisa masuk ke Mall di hari sekolah itu walau diluar jam sekolah (baca:siang/sore hari) ada tantangan t

Pulang Kota Jakarta

Jakarta... Ketika aku pulang ke kota Jakarta dan sekitarnya itu. Berarti itulah waktuku untuk rehat sejenak dari rutinitas. Aku bisa pulang ke rumah Ibuku sambil menengok beliau, bermalam beberapa hari disana dan membiarkan anak-anakku bermain dengan neneknya. Aku pun bisa rehat sejenak dari tugas beberes rumah karena ada ART yang membantu di rumah Ibuku ini serta menghilang sebentar, menitipkan anak-anak di rumah bersama neneknya. Menghilang kemana? Menghilang ke mall dekat rumah, bertemu teman-teman lamaku, mengurus segala urusan disini yang tertunda seperti membayar stnk motor, ke bank, service hp, benerin sepeda, ganti batere jam tangan, dan lain sebagainya. Ada saja urusan yang harus dikerjakan saat kembali ke sini. Mulai dari printilan seperti yang aku sebutkan diatas hingga jalan-jalan menikmati Mall disini. Dalam radius kurang dari 3km ada 8 Mall yang bisa dikunjungi cukup dengan naik ojek online saja dari rumah mamaku. Kalau dari rumah mertua cukup jalan kaki (500m) sudah

Bulan...Oh...Bulan...

Oh bulan... Sudah 36 bulan kita tak bersua. Sudah lupa rasanya ketika kedatangan dirimu. Sudah terbiasa selama 3 tahun ini tanpamu. Kini kau datang kembali menyapa... Aku tak menyangka. Tak ada persiapan apa pun. Anak pun bertanya. Bingung menjelaskannya. Ternyata begini rasanya. Ketika kau datang. Emosi luluh lantak. Badan pun terasa mau lepas. Bahkan demam dan meriang pun ikut menyapa. Yah semoga ini hanya awal penyambutan saja. Mengingat sudah 36 bulan tidak bersua. Namun kuharap hadirmu dapat selalu tepat. Sehingga tidak mengacaukan perhitungan di tiap bulannya. #ODOP #onedayonepost #37post #health

Sakit Itu Alarm Bagi Kita

Beberapa hari yang lalu, aku menulis ketika papa sakit. Yang menyebabkan semuanya terkena imbas. Yang biasa dikerjakan secara team menjadi hanya dikerjakan sendiri ditambah mengurus yang sakit. Seperti sudah sebuah siklus, jika salah satu dari kami penghuni rumah ada yang sakit. Akan menyebar dan menulari 1 rumah. Jadi bergantian sakitnya. Untungnya, walau semuanya tertular jadi ikutan sakit. Yang sakitnya lumayan menyita energi hanya satu orang saja. Akhirnya tiba saatnya aku yang sakit hari ini. Baru dikasih demam dan pusing serta badan pegal linu sakit semua kalau bergerak saja, rasanya udah pengen dimanja maksimal sama suami. Semalam tidur sore, namun tadi malam terbangun dini hari dan tak bisa tidur lagi, lanjut tidur lagi hingga akhirnya kesibukan pagi hari dikerjakan semua oleh suamiku. Terima kasih suamiku. Karena kami hanya berdua saja di rantau ini maka kami hanya punya satu sama lain saja untuk bergantung dan bekerja secara team untuk kehidupan sehari-hari. Anak-anak suda

Waktu 24 jam sehari, kuantitas boleh sama kualitas tunggu dulu...

Keseharian kami sejak merantau di kota Semarang ini, salah satunya hampir setiap weekend kami mengunjungi tempat wisata alam di semarang dan sekitarnya. Bahkan ketika 3 bulan pertama kami pindah, kami agak merasa bahwa banyak sekali ya waktu 24 jam sehari di kota ini yang dapat dimanfaatkan. Jika aku bandingkan dengan dahulu ketika tinggal di Jakarta dan sekitarnya, waktu 3-4 jam sehari sudah habis hanya untuk perjalanan rumah kantor. Lalu 9 jam di kantor termasuk 1 jam istirahat siang. Itu kalau tidak ada lembur atau rapat di luar jam kantor. Belum lagi kalau rangkaian dinas luar kota sudah tersusun rapi, mengejar flight pertama sebelum subuh pun sudah berangkat menuju bandara, begitu pula sepulang dinas yang waktu tempuh bandara-rumah dapat berjam-jam lamanya. Keseharian kami berubah total, pagi hari jam 5-6 bangun pagi lalu dilanjutkan menyiapkan sekolah anak-anak (beberes, masak, makan, mandi). Jam 8 kurang papa meluncur mengantar kakak sekolah lalu ke kantor. Lalu aku jam 9 aku

Passion Papa Yang Terpendam

Laki-laki itu, sebagian besar berpikir bahwa wilayah dapur merupakan wilayah perempuan. Tak terkecuali suamiku. Khususnya hal masak-memasak. Bertahun-tahun usia pernikahan, tidak pernah papa itu menunjukkan minatnya memasak. Aku pun kemampuan masaknya ya standar-standar saja walau sudah lebih dari 10.000 jam terbang memasak di dapur. Hahaha. Setelah perdana beberapa minggu lalu, papa turun ke dapur memasak masakan pertamanya yaitu nasi goreng. Hmmm, memang enak. Lalu seperti tersadar, papa menemukan passionnya. Lalu beberapa hari kemarin papa mengatakan ingin memasak sambal goreng hati. Langsung saja kusiapkan bahan-bahannya. Aku ke supermarket membeli hati sapi. Pagi tadi aku ke pasar pagi membeli bumbu dapur yang habis di dapur. Langsung saja kutagih ucapan papa beberapa hari kemarin yang katanya mau masak sambal goreng hati. Papa terkejut, tidak memyangka akan ditagih dan telah disiapkan bahan-bahannya. Apa daya, papa tidak dapat mengelak. Hahahaha. Lalu aku mengajak anak-anak b