Langsung ke konten utama

Branding via Digital Marketing

Pentingnya Branding Mungkin masih banyak diantara kita yang tidak peduli dengan brand atau merek.  Khususnya bagi mereka yang berpikir bahwa yang penting aku jualan barang atau jasa yang memuaskan pelanggan itu sudah cukup. Nama brand atau merek itu nggak penting deh urusan belakangan. Apalagi ngurusin brand atau merek itu biasanya butuhkan uang yang tidak sedikit dan juga waktu. Benarkah merek atau brand itu nggak penting?  Aku mau cerita salah satu kisah temanku yang mempunyai bisnis rumahan membuat kue. Temanku ini adalah teman mantan satu kantorku di Jakarta yang suka sekali memasak kue.  Sebelum dia resign dari kantornya dia sudah memulai bisnis kuenya ini dari rumah. Pelanggannya rata-rata adalah teman-teman kantornya, teman-teman sekolahnya teman-teman kuliah, kolega kantor dari suaminya. Jadi bisa dibilang pemasarannya itu lewat WhatsApp status dan WhatsApp Group serta dukungan suaminya tentunya. Lalu dia memantapkan hati meninggalkan pekerjaan kantoran nya dan akan fokus di bi

Hidup di Perantauan (Part 2)





Pada artikel sebelumnya Hidup di Perantauan (Part 1), aku sudah sharing 2 tips ala diriku Angrumaoshi cara bertahan hidup di Perantauan. Masih mau merantau? Sudah siapkah merantau?


Merantau itu sebuah pilihan


Berikut aku tulis ulang ya keseluruhan tips supaya teman-teman tidak terlupa.


5 Tips Cara Bertahan Hidup di Perantauan Ala Angrumaoshi.

  1. Make a  friend (Perbanyak kenalan).

  2. Prepare your savings (Siapkan dana darurat).

  3. Know your new place (Kenali daerahmu).

  4. Less Goods is Good (Perhatikan efisiensi dan efektifitas barang yang dimiliki).

  5. Learn the Language (Belajar bahasa lokal).


3. Know your place (Kenali Daerahmu)


  • Via Google Maps dan Google Earth


Di era digital seperti ini, sangat terbantu ya untuk mengenal daerah tujuan rantau kita, bahkan sebelum kita menginjakkan kaki disana.


Kita dapat memanfaatkan google maps termasuk juga google earth. Kita dapat melihat-lihat situasi secara real di lokasi daerah rumah tempat kita tinggal di perantauan. 


Begitu pula kita dapat melihat fasilitas umum terdekat seperti rumah sakit, sekolah, pasar/supermarket/minimarket, tempat ibadah, taman umum.  


Ke- 5 tempat tersebut vital dan sebaiknya ada dalam jarak dibawah 5km dari tempat tinggal.


Sehingga ketika menentukan lokasi tempat rumah tinggal perlu menjadi perhatian apakah ke-5 tempat tersebut tersedia dan bagus fasilitasnya.


  • Live Tur Virtual Kota yang akan Dituju


Sering-seringlah mengikuti tur virtual pada kota tempat tujuan rantau kita. Tentunya beda melihat dan menjelajah google maps secara mandiri jika dibandingkan dengan mengikuti tur virtual yang dipandu dengan warga lokal disana. 


Tur virtual ini sudah banyak tersedia di youtube, sudah banyak content creator youtube yang berbagi cerita tentang keseharian, budaya dan tempat-tempat vital di suatu daerahnya bukan hanya informasi tentang tempat wisatanya.


Bahkan tur virtual ini juga banyak diadakan secara langsung via zoom atau live youtube sehingga kita dapat bertanya langsung.


Biasanya yang menyelenggarakan tur virtual ini adalah komunitas perantau seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia, atau perusahaan seperi perusahaan travel agent perusahaan agent pendidikan luar negeri, dan lain-lain. 


  • Bertanya kepada orang/teman/relasi yang pernah atau sedang berdomisili di kota tujuan rantau kita.


Teman-teman dapat bertanya tentang hal-hal seperti biaya hidup, budaya disana, hal-hal yang tidak boleh dan boleh dilakukan berdasarkan norma/aturan disana, dan lain-lain. 


  • Kenali cuaca dan musim di kota tujuan


Bagi kita yang tinggal di Indonesia dan hanya merasakan musim panas dan hujan maka ketika akan merantau ke kota atau negara lain yang mempunyai 4 musim tentu harus memperhatikan dan mempersiapkan banyak hal.


Walaupun hanya berpindah kota misal kota di pesisir pantai dan di pegunungan pun, persiapan terkait cuaca juga tidak boleh dilupakan.


Siap baju yang sesuai dengan kondisi cuaca dan musim, termasuk obat-obatan pribadi kita. Cari tau dan bawalah persediaan obat pribadi kita yang mungkin bisa saja tidak tersedia di kota tempat kita merantau. 


4. Less Goods is Good (Perhatikan efisiensi dan efektifitas barang yang dimiliki).


Berdasarkan pengalamanku ketika sudah berpindah kota 2 kali, maka ketika berada di perantauan itu, aku menjadi menjadi berpikir 2x jika ingin membeli barang-barang. 


Aku akan berpikir dan menanyakan diri sendiri pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

  • Barang ini nanti mudah gak ya untuk aku bawa ketika pindah?

  • Barang ini mau aku letakkan dimana di rumah, masih ada tempatkah? (Aku biasanya mengkontrak/sewa rumah yang minimalis, supaya gak ribet membereskan karena aku memilih untuk tidak menggunakan asisten rumah tangga).

  • Barang ini murah (sedang diskon) tapi kualitasnya bagus gak? Masa pakainya cukup lamakah? Mudah rusakkah?



  • Kalau aku beli barang ini akan menambah sampah atau rongsokan gak ya? 

  • Bisakah barang ini nanti ketika sudah tidak terpakai di 3R (Reuse, Recylce, Reduce)?

  • Apakah aku bisa bertanggung jawab dengan sampah-sampah yang akan aku hasilkan kelak jika banyak berbelanja barang-barang (khususnya yang berbahan plastik dll)? Tidak sekedar membuangnya di tempat sampah, karena plastik itu tidak mudah terurai. 

  • Apakah aku akan merusak alam dengan membeli barang-barang ini?

  • Apakah jika aku membeli barang yang baru sudah ada barang di rumah yang lama yang akan aku donasikan/dibuang? Karena dibutuhkan tempat untuk menyimpan  barang-barang baru tersebut.


Ketika bersiap-siap pindahan maka otomatis kita akan melakukan decluttering atau memilah barang mana yang masih akan kita pakai dan bawa. 


Ketika melakukan decluttering tersebut barulah tersadar bahwa banyak sekali barang di rumah. Baik barang yang masih layak dipakai maupun yang sudah tidak layak.


Terkadang kita tanpa sadar menyimpan sampah di rumah seperti barang-barang yang sudah tidak dapat dipakai lagi bukan karena pemakaian tetapi karena usia didiamkan di dalam lemari. Kita lupa kita punya barang tersebut. 


Sungguh sayang bukan, kita terbiasa menyimpan hingga tanpa sadar barang tersebut rusak atau sudah tidak layak pakai lagi. Padahal jika sedari awal kita tidak membelinya tentu akan membantu kita berhemat. 


Atau pun jika sudah terlanjur dibeli dan kita tidak suka atau tidak mau menggunakannya lagi tentunya lebih baik didonasikan atau diberikan kepada yang membutuhkan.


Namun ada rasa sayang disana, sudah keluar uang masa diberikan orang, disimpan saja, mungkin butuh besok-besok. Hingga akhirnya berbulan-bulan bahkan tahunan hanya memenuhi lemari atau gudang saja hingga akhirnya rusak tak bermanfaat. 


Rasa ingin memiliki inilah yang membuat kita ingin menyimpan, tidak ingin berbagi. Biarlah rusak tidak apa-apa. Aku kan tidak merugikan siapa-siapa. Mungkin tidak merugikan siapa-siapa tetapi yang pasti akan menyumbang jumlah sampah, dan sampah itu disimpan di dalam rumah. 


Dan ketika sampah itu dibuang ke tempat sampah akan membuat tumpukan sampah semakin menggunung di TPA yang pada akhirnya merusak alam.


Akhirnya kini aku merasa bahwa minimalist itu lebih enak, rumah lebih lega, lebih hemat, lebih bermanfaat karena banyak barang didonasikan, bahkan terkadang barang preloved pun dapat dijual dan menambah penghasilan. 


Melepas dan mengurangi rasa kepemilikan. Kalau bisa sewa mengapa harus memiliki 🙂 untuk barang-barang tertentu (misalnya mainan anak-anak yang memakan tempat dan berbahan plastik). 


Dari seluruh anggota keluarga itu ternyata barang anak-anak itu paling banyak seperti mainan dan baju serta buku. 


Si Ayah yang paling sedikit barangnya. Sejak dari awal menikah pun memang barang yang dia bawa sedikit dan juga tidak hobby belanja sih jadi ya barangnya tidak banyak.


Aku pun juga tidak banyak barangnya. Walaupun aku wanita yang mau tidak mau kalau dibandingkan pria pastinya jauh lebih  banyak barangnya. Karena sepatu saja ada beberapa jenis (high heels, pantofel, sepatu olah raga dkk) belum juga jenis baju/tas yang jenisnya juga banyak, setiap kegiatan punya outfitnya tersendiri.


Belum lagi kalau kita tipikal orang yang dengan mudah menggemuk dan mengurus, jadi koleksi pakaian mulai dari S hingga XL tersedia di lemari wkwkwk. 


Walau begitu bukan alasan untuk tidak melakukan decluttering, memiliah secara rutin barang yang masih akan digunakan dan yang akan disimpan atau didonasikan bahkan dibuang.



5. Learn the Language (Belajar bahasa lokal)


Belajar bahasa lokal jangan diremehkan. Walau kita sudah jago bahasa inggris atau bahasa indonesia, akan lebih baik lagi jika kita bisa bahasa lokal daerah rantau secara dasar saja minimal. 


Sehingga ketika kita di tempat umum misalnya di pasar, terminal/stasiun, taman dan tempat lainnya kita dapat mengerti jika warga lokal berbicara dengan bahasa lokalnya. 


Misal di pasar nih, kita jadi percaya diri untuk menawar dengan menggunakan bahasa lokal. 


Orang-orang yang sudah senior juga biasanya cenderung hanya bisa berbahasa lokal saja, dan terkadang petugas di terminal/stasiun itu sudah senior jadi alangkah membantunya jika kita bisa bahasa lokal walau sedikit-sedikit.


Kita bisa mempelajari bahasa lokal sebelum kita sampai di kota tujuan. Banyak aplikasi  bahasa di playstore yang dapat membantu kita untuk belajar bahasa minimal untuk percakapan umum sehari-sehari seperti aplikasi duolingo, dan lain-lain.


Walau sekarang sudah ada google translate yang cukup membantu disaat genting ketika harus berkomunikasi dengan bahasa lokal, akan lebih nyaman dan meningkatkan percaya diri serta kepercayaan orang lokal kepada kita ketika kita bisa bahasa lokal mereka. Orang lokal akan merasa dihargai dan bangga juga jika ada orang non lokal yang dapat berbahasa seperti mereka. 


Nah, bagaimana menurut teman-teman tips cara bertahan hidup di perantauan ala Angrumaoshi, kalau ada tips lainnya boleh ya dishare di kolom komentar.


Hidup Para Perantau!

Kampung halaman boleh ditinggalkan

Namun kenangan tentangnya tak kan tergantikan.





Komentar

  1. Ini sangat bermanfaat sekali terlebih tips nya ini sangat realated sekali seperti memperbanyak pertemanan, mengenali kondisi medan. Intinya bisa beradaptasi sangat penting

    BalasHapus
  2. Sharing yanng sangat bermanfaat kakak, benar sekali bahasa lokal sangat penting ya kak. Pernah kami kebingungan tidak bisa bertanya pada warga lokal yang sudah senior heheh..

    BalasHapus
  3. Ketika merantau, gak hanya memperhatikan soal budaya daerah dan bagaimana berinteraksi ya kak, tetapi juga memperhatikan apakah barang-barang yang kita beli bener-bener baik dan berguna untuk ke depannya. Sebagai orang yang ingin jadi perantau (lagi) setelah setahunan lebih dikit enggak, saya menjadi diingatkan kembali. Nice article!

    BalasHapus
  4. Saya pernah merasakan merantau kak. Tapi diantara 5 tips hanya satu yang susah saya lakukan. Yakni nomer 5. Hihi
    Agak sulit bagi saya untuk mempelajari bahasa daerah tersebut.

    BalasHapus
  5. Soal barang varang, biasanya memang barang punya anak anak yang paling banyak. Apalagi anak kan perubahan fisiknya cepat. Akhirnya jadi rajin beli pakaian deh.

    Soal belajar bahasa dan budaya lokal memang penting banget. Apalagi kalau tinggalnya bukan sebulan dua bulan saja.

    BalasHapus
  6. Terimakasih mba.. tulisannya berguna buat aku.
    Karena mau hijrah juga dalam waktu dekat ini.
    udah nonton youtube juga, untuk cari tau ttg daerah yang akan aku tuju
    malah aku nonton di youtube juga gimana meminimalisir perabot, supaya gak ribet di kemudian hari ketika dipindahkan lagi...
    Yang agak susah mnrt aku soal belajar bahasa lokal ini ....

    BalasHapus
  7. Bener bangett kak. Untuk barang2 kayak mainan anak juga beberapa aku suka nyewa ketimbang beli hehe. Selain lebih variatif juga ngurangin sampah 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih ya. Daripada beli trus menumpuk di rumah dan jadinya mubadzir, kenapa nggak sewa aja kalau mainan anak ya.

      Hapus
  8. wow mantap! satu lagi yg perlu diingat, aku tidak membawa "diriku seutuhnya" ketika merantau. ada hal2 yg mungkin tidak masalah di kota kita sendiri, tetapi dikota lain itu adalah sebuah kewajiban, atau norma kesopanan yg perlu dianut, mungkin kadang teranggap sepele, tp itu sangat terasa bedanya 😅

    BalasHapus
  9. Tipsnya ngena banget buat mereka yang sedang dirantau, bener tuh belajar bahasa kadang perlu dipelajari setidaknya agar paham obrolannya yaak. Seruu yaa, hidup di perantauan, apalagi jaman now teknologi canggih segala dipermudaah.

    BalasHapus
  10. Dulu saya pingin merantau untuk ngerasain gimana sih tinggal sendiri atau mandiri di tempat yang jauh saat mau persiapan kuliah, tipsnya boleh juga nih dan mau saya terapin ntar jika mau ngerantau nanti

    BalasHapus
  11. Wah segudang tips untuk merantau sungguh suatu hal yang penting sekali untuk dipahami. Skg teknologi membantu kita bisa mengexplorasi sebelum merantau.

    BalasHapus
  12. Persoalan barang relate banget sih. Saya sendiri paling malas beli barang-barang karena kalau nanti pindah bakal repot. Dan juga soal bahasa lokal penting sekali agar mudah membaur dan diterima masyarakat setempat. Prinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung berlaku.

    BalasHapus
  13. Bagus sekali tulisannya, saya setuju banget
    Alhamdullilah sekarang udah ada fasilitas GMap
    Dulu, pertama merantau ke Bandung, sering banget kesasar
    Sekarang, berkat aktif belajar bahasa Sunda saya betah di Bandung 😀😀

    BalasHapus
  14. Tipsnya kece juga nih, kalau barang dirumah sih kebanyakan sustainable jadi gampang buat pindahan, kesulitan nya di adaptasi butuh waktu maklum pemalu kitaaa 🤭

    BalasHapus
  15. Saya dan orang tua saya juga dulu perantauan walau masih sama sama di indonesia dan satu kepulauan. Setuju perantau harus menguasai bahasa lokal karena ini sangat membantu kita dalam berkomunikasi dan mendapatkan apa yg kita butuhkan.

    BalasHapus
  16. Saya belum pernah merantau sampai sekarang di usia 30 tahun. Hmmm,memang ada keinginan sih bisa stay lama di kota orang tapi belum kesempatan untuk itu. Inginnya sih bisa stay lama di negara orang untuk study program master. Tips merantau disini bisa banget dicoba apalagi saat ke pasar atau tempat umum yang banyak warga lokal sekalian bisa belajar bahasa lokalnya juga.

    BalasHapus
  17. Saya pernah merantau walau hanya 6 bulan. Rasanya memang awal awal tidak betah tapi mau gimana lagi kalau ga gitu saya ga kerja dan dapat pengalaman. Semua dalam hidup harus dihadapi. Semangat mbaaak

    BalasHapus
  18. Merantau memang sebuah pengalaman yang luar biasa, aku belum pernah merantau jauh dalam waktu lama palingan cuman traveling doang. Memang belum ada kesempatan sih bukannya ga mau hehe....

    BalasHapus
  19. Aku juga sudah 10 tahun merantau. Dan soal barang² ini benar sekali sih, aku yang nggak berpikir 2x ketika membeli barang. Lama-lama jadi numpuk, dan susah ketika mau pindah. Jadi tambah biaya, dan energi juga harus extra untuk mengangkut dan menata barang tersebut.

    BalasHapus
  20. Pertama kali saya merantau ke pulau lain, yang pertama saya pelajari adalah bagaimana cara tercepat mencapai bandara. Itu terbukti berhasil ketika kota tempat saya merantau itu diserang kabut asap persis pada hari terakhir saya di sana.

    BalasHapus
  21. Bersosialisasi sekaligus untuk mengenali lingkungan sekitar juga, sehingga tidak merasa asing dengan apa yang terjadi di luar sana

    BalasHapus
  22. aku juga pernah merantau mbak, tapi emang yang susah itu yang mempelajari bahasa lokal, agak susah aku
    tapi emang enak ya klo bisa bahasa lokal, biar dikira orang lokal

    BalasHapus
  23. Aku belum pernah merantau sampai ke luar negeri, tapi sejauh ini udah tinggal di 4 kota berbeda. Menurutku tips dari kamu masih related banget, Kak.. Yang paling susah bagiku sih mempelajari bahasa daerah hehee

    BalasHapus
  24. nah aku udah jadi anak rantau sejak 2009, dan emang bener yaa, ngerasain banget pentingnya membangun pertemanan yang baik dari jaman kuliah sampe sekarang, alhamdulillah banyak orang baik yang bisa sama-sama saling bantu kalau lagi ada kesulitan

    BalasHapus
  25. Tipsnya kece banget, Teh. Persoalan efektivitas dan efisiensi itu baru kerasa banget setelah saya ngontrak rumah.

    BalasHapus
  26. Saya merantau paling jauh hanya ke Bandung hehehe emang sih mengenal bahasa setempat wajib banget karena kalau belanja yang bisa ditawar lebih sering goal kalau bisa bahasa setempat hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Darurat Literasi Digital di Indonesia

Literasi Digital adalah kemampuan dasar mutlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia yang terhubung dengan dunia maya, - Angrumaoshi - Sumber : www.pixabay.com Pengertian Literasi Digital Pernah dengar Literasi Digital? Jujur, aku pernah mendengarnya namun belum paham 100%. Kalau literasi keuangan/finansial dan literasi baca tulis sudah cukup sering ya mendengarnya. Sebelum membahas lebih lanjut tentang Literasi Digital, aku mau mengutip terlebih dahulu mengenai pengertian dari literasi yang disebutkan di wikipedia. “ Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. ” Nah ternyata, literasi itu ada banyak jenisnya. Salah satunya adalah literasi digital. Tetapi apa saja sih jenis-jenis literasi itu, berikut jenis litera

Perawatan Wajah di ZAP Clinic saat Pandemi

ZAP Clinic Review Aku sudah lama sekali tidak perawatan wajah selama pandemi, baik itu ke salon atau ke klinik. Aku membayangkan harus membuka masker saja, sudah membuatku urung untuk melakukan perawatan wajah di luar rumah.  Namun ada saatnya perawatan wajah tidak dapat dilakukan di rumah saja.  Ini pertama kalinya aku mencoba di ZAP Clinic. Letaknya yang dekat dengan food court di lantai 2 Grand Galaxy Park ini, sangat strategis sehingga membuatku sudah sering sebenarnya melewatinya, namun belum kesampaian untuk mencobanya sebelumnya.  ZAP Clinic Grand Galaxy Park  Akhirnya walau masih pandemi aku memberanikan diri untuk treatment wajahku di ZAP Clinic Grand Galaxy Park (GGP) Bekasi. Mall yang tidak begitu ramai dan juga protokol kesehatan di ZAP Clinic yang sangat terjaga. Kebayang gak, pakai masker tapi ditreatment wajahnya, bisa loh ternyata. ZAP Clinic Ruang Treatment Tips dan Alur Perawatan di ZAP CLinic Booking Jadwal Sebaiknya kamu booking dulu nih, Jangan langsung go show khu

Akhirnya, Berani Berwisata Lagi (Air Terjun Klenting Kuning) di Kabupaten Semarang

  Awal Mula Berwisata Kembali Sudah beberapa bulan ini sejak Februari 2020, aku dan keluarga berada di rumah saja. Sudah penat rasanya. Ingin rasanya berjalan-jalan berwisata seperti yang sering kami lakukan saat akhir pekan.  Sekarang sudah masuk bulan September 2020, jadi sudah 6 bulan. Waktu yang terasa sangat lama. Kami benar-benar tidak pergi keluar kota bahkan ke mall pun tidak. Anak-anak pun benar-benar di rumah saja. Sekolah juga hanya via daring.  Ayahnya sebenarnya sudah kerap kali mengajak kami untuk berwisata. Wisata yang pada akhirnya hanya berputar-putar saja keliling kota atau ke kota sebelah namun benar-benar tidak turun dari kendaraan. Fiuh apa asyiknya seperti itu. Semangat kami langsung ciut ketika mendapati penuhnya parkiran tempat-tempat wisata tersebut dan banyaknya orang-orang berlalu lalang tanpa masker.  Tetapi akhirnya hari minggu kemarin 6 September 2020, sang ayah kembali mengajak kami keluar rumah. Aku pun sudah pesimis saja, pasti hanya berputar-putar saja

Angrumaoshi.com, Tempatmu Bercerita Kehidupan

Aku rutin menulis itu, dimulai 3 tahun yang lalu. Bukan menulis laporan atau riset di kala bekerja, namun menulis tentang apa yang ada di pikiranku tentang kehidupan di sekitarku. Tentang pikiran orang-orang memandang kehidupannya. Kutuangkan semua di blog aku, angrumaoshi.com. Tempatmu bercerita kehidupan, disitulah aku menyimak dan menuangkannya ke dalam tulisan penuh makna, -angrumaoshi.com- Hidup di Perantauan   Tahun 2017, aku pindah ke Semarang. Di Semarang ini bisa dibilang aku tidak punya kenalan siapa pun. Aku ikut merantau ke kota lumpia ini bersama suamiku, karena Suamiku dipindahtugaskan di kota ini. Aku pun melepas kehidupanku di Jakarta meninggalkan semua teman-temanku di sana dan bisa dibilang aku memulai hidup baru disini memulai dari nol.  Peran ku pun berubah dari yang sebelumnya seorang working mom suka lembur dan terbang ke sana ke mari menjadi seorang full time stay at home mom dengan dua anak yang masih berusia dibawah 3 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana perubahan

Selamat Datang Vaksin Virus Corona untuk Indonesia

Andaikan vaksin virus corona telah tersedia jauh-jauh hari, tentunya kita tidak akan pusing dan merasa takut yang berlebihan dengan corona seperti setahun terakhir ini. Untungnya banyak negara dan perusahaan farmasi berlomba-lomba dan giat untuk menciptakan vaksin untuk covid-19.  Sudah banyak nama-nama vaksin covid-19 yang siap beredar disebutkan pada berita seperti   vaksin moderna , vaksin Bio Farma (Persero), vaksin Astra Zeneca-Oxford, vaksin Sinopharm, vaksin Pfizer-BioNTech, dan vaksin Sinovac. Indonesia pun akan menggunakan keenam jenis merk vaksin ini. Bahkan vaksin Sinovac sudah datang masuk ke Indonesia pada tanggal 6 Desember 2020. Tiap-tiap vaksin mempunyai harga yang berbeda-beda. Begitupun dengan efek samping yang menyertainya. Bahkan bagi yang memiliki alergi disarankan juga untuk berhati-hati dalam memilih vaksin yang sesuai untuk tubuhnya.  Sumber gambar : www.pixabay.com Tak terasa sudah hampir setahun covid-19 bersama kita. Dalam hitungan hari pun tahun juga

Balada Si Roy, Film Layar Lebar Perdana IDN Pictures

  Jangan percaya terhadap cinta, karena itu akan menjajah hidup kamu! begitu kata Roy. Seorang petualang jiwanya tidak bisa dimiliki, karena dia butuh inspirasi. Kalau jiwanya sudah diikat, berarti dia akan beku dan mati. Baginya, cinta bukan berarti harus menjadi jangkar dalam hidupnya. Balada Si Roy ke Layar Lebar November 2020 lalu, IDN Pictures telah mengumumkan bahwa akan mengangkat Novel lawas Balada Si Roy ke layar lebar sekaligus menjadi proyek perdananya dengan Fajar Nugros sebagai sang sutradara dan Susi Susanti sebagai produsernya. Sumber : IDN Media Bagi generasi milenial atau pun generasi Z tentunya mungkin masih terdengar asing dengan novel yang berjudul Balada Si Roy. Padahal novel Balada Si Roy ini sangat terkenal di masa tahun 80-90an.  Coba deh kamu tanya ke Ibu/Bapak kamu atau tante/om kamu pasti tau tentang kisah Balada Si Roy ini. Novel lawas Balada Si Roy ini merupakan karya dari Gol A Gong yang merupakan nama pena dari  Heri Hendrayana Harris , seorang sastrawan

Tempat Hang Outku di Pringsewu Kota Lama Semarang bersama Blogger Gandjel Rel

Sebenarnya aku sudah tidak asing dengan restoran #pringsewu ini. Pringsewu group ini, restorannya tersebar di sepanjang jalur pantura dan saat ini juga tersebar di sepanjang jalur rest area tol trans jawa. Aku biasa makan di pringsewu rest area atau tegal/pemalang ketika perjalanan semarang-jakarta begitu pula sebaliknya. Namun aku baru mengetahui kalau ada pringsewu juga di kota lama Semarang ini. Pertama kali aku mengetahuinya saat berkunjung ke Sam Pho Kong dan diberikan voucher diskon saat akan meninggalkan lokasi. Aku pun penasaran ingin mencoba. Gayung pun bersambut, tak lama ada undangan dari komunitas keren #GandjelRel yang akan berulang tahun ke4 dirayakan disana. Aku sebagai member baru yang baru join, senang sekali plus dapat menghilangkan rasa penasaranku dengan pringsewu yang di kota lama ini. Aku sebenarnya adalah pendatang di kota lunpia ini dan sudah jatuh cinta dengan kota ini. Kota lama yang apik dengan taman sri gunting untuk foto-foto, di sebelah ge

Narasi dari Papua, Sebuah Sumbangsih Freeport Indonesia kepada Masyarakat Papua

Siapa yang tak kenal dengan PT. Freeport Indonesia. Hampir semua orang mengetahui tentang perusahaan tambang besar di bumi papua Indonesia ini. PT Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang terkemuka di dunia yang melalukan eksplorasi, menambang, dan memproses bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia.  Walau hampir semua orang mengetahui PT Freeport Indonesia, namun belum tentu mengetahui tentang kontribusi Freeport baik kepada masyarakat langsung di sekitar lokasi tambang atau pun kontribusi dalam rangka meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan.  Berdasarkan sifatnya, kegiatan pertambangan bagaimanapun akan memberikan dampak terhadap lingkungan. Tapi Freeport Indonesia telah melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak tersebut dan memastikan dampak tersebut tidak berlangsung dalam jangka waktu lama. Untuk itu Freeport Indonesia berkomitmen untuk melakukan identifikasi, memahami, mem

Hidup di Perantauan (Part 1)

LIVE THE ADVENTURE Menginjak usia dewasa muda mungkin bahkan remaja akan muncul keinginan merantau ini. Sekolah merantau   ke kota sebelah atau ke negeri tetangga. Entah dilandasi alasan ingin mandiri atau ingin bebas saja tinggal terpisah dari orang tua, rasa ingin berkelana mencoba merasakan dunia baru biasanya menggebu. Bagi yang sudah bekerja juga dapat dihadapkan pada pilihan untuk merantau mengikuti tempatnya bekerja. Bagi pasangan suami istri, merantau juga akan menjadi pengalaman tak terlupakan karena mereka akan sangat mengandalkan satu sama lain di tempat baru dimana tiada sanak saudara ataupun teman. Apapun alasan kamu untuk merantau itu, dapat aku katakan hidup di perantauan itu akan penuh dengan tantangan. Segala sesuatunya baru di matamu. Live The Adventure 🙂. 5 Tips Cara Bertahan Hidup di Perantauan Ala Angrumaoshi.   Make a  friend (Perbanyak kenalan)   Prepare your savings (Siapkan dana darurat) Know your new place (Kenali daerahmu)  Less Goods is Good