Langsung ke konten utama

Hidup di Perantauan (Part 2)

Pada artikel sebelumnya Hidup di Perantauan (Part 1), aku sudah sharing 2 tips ala diriku Angrumaoshi cara bertahan hidup di Perantauan. Masih mau merantau? Sudah siapkah merantau? Berikut aku tulis ulang ya keseluruhan tips supaya teman-teman tidak terlupa. 5 Tips Cara Bertahan Hidup di Perantauan Ala Angrumaoshi. Make a  friend (Perbanyak kenalan). Prepare your savings (Siapkan dana darurat). Know your new place (Kenali daerahmu). Less Goods is Good (Perhatikan efisiensi dan efektifitas barang yang dimiliki). Learn the Language (Belajar bahasa lokal).  3. Know your place (Kenali Daerahmu) Via Google Maps dan Google Earth Di era digital seperti ini, sangat terbantu ya untuk mengenal daerah tujuan rantau kita, bahkan sebelum kita menginjakkan kaki disana. Kita dapat memanfaatkan google maps termasuk juga google earth. Kita dapat melihat-lihat situasi secara real di lokasi daerah rumah tempat kita tinggal di perantauan.  Begitu pula kita dapat melihat fasilitas umum terdekat seperti rum

Darurat Literasi Digital di Indonesia

Literasi Digital adalah kemampuan dasar mutlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia yang terhubung dengan dunia maya, - Angrumaoshi -

Sumber : www.pixabay.com


Pengertian Literasi Digital

Pernah dengar Literasi Digital? Jujur, aku pernah mendengarnya namun belum paham 100%. Kalau literasi keuangan/finansial dan literasi baca tulis sudah cukup sering ya mendengarnya.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang Literasi Digital, aku mau mengutip terlebih dahulu mengenai pengertian dari literasi yang disebutkan di wikipedia.

Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.

Nah ternyata, literasi itu ada banyak jenisnya. Salah satunya adalah literasi digital. Tetapi apa saja sih jenis-jenis literasi itu, berikut jenis literasi berdasarkan konsep literasi dasar yang digunakan oleh Kemdikbud dalam gerakan literasi nasional (gln.kemdikbud.go.id), :

  1. Literasi baca dan tulis
  2. Literasi numerasi
  3. Literasi sains
  4. Literasi digital
  5. Literasi finansial
  6. Literasi budaya dan kewargaan 

Masih berdasarkan Kemdikbud, pengertian dari literasi digital adalah :

“Pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.”

Berdasarkan informasi yang aku dapatkan di wikipedia ternyata literasi digital juga termasuk merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengkomunikasikan konten/informasi dengan kecakapan kognitif dan teknikal. 

Digital literasi lebih cenderung pada hal hal yang terkait dengan keterampilan teknis dan berfokus pada aspek kognitif dan sosial emosional dalam dunia dan lingkungan digital. 

Jadi, literasi digital ini muncul sebagai respons dari adanya perkembangan teknologi dalam menggunakan media untuk mendukung masyarakat memiliki kemampuan membaca serta meningkatkan keinginan masyarakat untuk membaca.

 

Minat Baca dan Literasi Digital di Indonesia

Minat baca di Indonesia itu tergolong rendah loh berdasarkan informasi yang disampaikan oleh kominfo melalui artikelnya yang dipost pada website kominfo yang berjudul Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos” pada tahun 2017 silam. Pada artikel tersebut didapatkan beberapa fakta berikut:

 

1.    Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah hanya 0,001% yang artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca.

 

Hal ini didukung dengan Riset World’s Most Literate Nations Ranked dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity (Maret 2016), Indonesia berada pada posisi ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, berada tepat di bawah Thailand (59) dan hanya diatas 1 negara yaitu Bostwana (61).

 

Walau begitu, Muhammad Syarif Bando sebagai Kepala Perpustakaan Nasional RI dalam webinar Literasi Dalam Membangun Ekonomi Masyarakat, Selasa (20/10) menyatakan bahwa data rendahnya tingkat literasi Indonesia itu murni disebabkan oleh faktor rasio antara ketersediaan bacaan dengan jumlah penduduk yang berbeda sangat jauh.

 

“Jika setiap tahun perpustakaan hanya menyediakan 50 juta buku bacaan terbaru, secara de facto ada kekurangan 217 juta buku (1 buku baru/orang) per tahun. Sementara UNESCO menetapkan standar minimal 3 buku baru setiap orang per tahun,” katanya.

 

Syarif juga menjelaskan bahwa sejak tiga tahun terakhir, perpustakaan nasional sudah menetapkan literasi yang menjadi tahapan untuk mencapai tingkatan literasi global dengan membangun akses terhadap sumber informasi yang terpercaya dengan jumlah yang cukup seperti membangun aplikasi perpustakaan digital.

 

Saat ini sudah ada 1350 perpustakaan digital yang memungkinkan untuk diakses masyarakat Indonesia.

 

2. 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang.

Berkaca pada jumlah tersebut, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

 

3.  Data wearesocial per Januari 2017 menyatakan orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari.

 

4.  Indonesia berada di urutan ke 5 dunia dalam hal tingkat kecerewetan di media sosial. Jakarta adalah kota paling cerewet di dunia maya karena sepanjang hari, aktivitas kicauan dari akun Twitternya (mencapai lebih dari 10 juta tweet setiap harinya) melebihi Tokyo, London, New York dan San Paulo. Bahkan Bandung berada di posisi 6. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris.

Jika fakta berkata demikian, maka tidak heran jika di Indonesia, hoax dapat tumbuh subur. Provokasi via sosial media pun benar-benar dapat menjadi pemicu kerusuhan dan terpecah belahnya NKRI di dunia nyata.

Dunia maya sangat tidak dapat disepelekan efeknya, khususnya dalam kecepatannya memberikan informasi kepada para netizen +62, terlepas apakah informasi tersebut hoax, fitnah atau pun opini yang sudah terpolarisasi. Like dan share dalam hitungan detik sudah memenuhi sosmed para netizen +62. 

Untuk itulah pentingnya literasi digital bagi seluruh masyarakat Indonesia khususnya bagi masyarakat Indoensia yang terhubung dan mempunyai akses dengan internet.

 

Bahaya Rendahnya Tingkat Literasi Digital Indonesia 

Minat baca yang rendah, ditambah dengan rendahnya tinfkat literasi digital Indonesia yang terlihat secara kasat mata, menumbuh suburkan adanya media fake news. 

Reuters Institute menyebutkan, jurang terbesar saat ini justru adalah soal kepercayaan masyarakat terhadap media fake news versus media yang valid.

Faktanya memang begitu, diukur lewat Alexa.com beberapa media fake news bahkan bisa mengalahkan media mainstream seperti Antaranews dan Tempo.co.

Ya, selamat datang di Era Post-Truth! Post-Truth ini didefinisikan sebagai ‘berkaitan dengan atau merujuk kepada keadaan di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi. Di era Post-Truth, orang tidak lagi mencari kebenaran dan fakta melainkan afirmasi dan konfirmasi dan dukungan atas keyakinan yang dimilikinya. 

Memang kini banyak situs opini yang bias, menyerang, dan tendensius pada satu kelompok, mereka bisa mengambil hati dan perasaan pembaca dengan story-telling yang mereka buat. Kebenaran menjadi tidak penting.

Kredibilitas nama medianya apalagi, sudah tidak dilihat oleh masyarakat kita yang malas baca dan cerewet tadi. Ketika media mainstream justru berseberangan faktanya dengan media opini tersebut, masyarakat justru malah berbalik menjadi tidak percaya terhadap media-media bernama besar itu.

Jadi yang mengganggu bukan hanya media sosial berisi hoax tapi juga media fake news yang menyebarkan opini yang terpolarisasi.

 

Aku dan Kamu dapat Berperan loh untuk Meningkatkan Literasi Digital Indonesia

Caranya bagaimana? Mudah saja. Berdasarkan konsep literasi digital yang digunakan oleh Kemdikbud dalam gerakan literasi nasional (gln.kemdikbud.go.id), au dan kamu harus mempunyai sikap seperti berikut ini:

1.    Kultural, yaitu  pemahaman  ragam   konteks   pengguna  dunia digital;

2.    Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten;

3.    Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual;

4.    Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital;

5.    Kepercayaan diri yang bertanggung jawab;

6.    Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru;

7.   Kritis dalam menyikapi konten; dan bertanggung jawab secara sosial

 

Aku dan kamu juga harus paham dengan prinsip dasar untuk peningkatan literasi digital:

1.   Pemahaman untuk memahami konten baik secara eksplisit dan implisit dari media.

2.   Adanya saling ketergantungan antar media yang satu dengan media yang lain

3. Faktor sosial yang sangat menentukan keberhasilan jangka panjang media yang dapat membentuk ekosistem organik untuk mencari informasi, berbagi informasi, menyimpan informasi dan akhirnya membentuk ulang media itu sendiri

4.  Pentingnya kurasi atau kemampuan untuk menilai sebuah informasi, menyimpannya agar dapat di akses kembali.

 

Jadi langkah bayi apa yang dapat aku dan kamu lakukan setelah memahami sikap dan prinsip dasar literasi digital diatas?

Aku akan coba menguraikan langkah-langkah bayi yang biasa kulakukan:

  1. Tahan jempol untuk klik like, share dan komen di sosial media, sebelum memastikan bahwa informasi tersebut 3B, Benar/Valid, Bermanfaat bagi penerima, tidak terBuru-buru.
  2. Bantu menyebarkan informasi yang benar di sosial media atas informasi Hoax diterima sebelumnya (jangan diam saja).
  3. Berhubung aku adalah seorang blogger, maka aku akan mengimplementasikan 3B tersebut diatas pada saat aku akan menulis sebuah artikel blog.
  4. Hindari memberikan opini yang terpolarisasi atau terlalu memihak pada suatu pihak secara obyektif.
  5. Mottoku adalah “Viral Belum tentu Benar, tapi yang Pasti Kamu harus Viralkan Kebenaran”.
  6. Selalu belajar dari mana saja supaya dapat kritis dalam menyikapi konten; dan membuat konten yang bertanggung jawab secara sosial, termasuk dengan mengkuti Kelas Growth Blogger 2 yang baru saja dimulai hari ini dengan pemateri Mba Gemaulani dengan materi pertama tentang Menulis dan Editing Blogspot.

Kalau kamu punya langkah bayi apa nih untuk meningkatkan literasi digital negeri tercinta kita ini?

 

Digital Literacy

 

Komentar

  1. Sebenarnya sih orang Indonesia mempunyai tingkat baca yang tinggi. Iya, baca Facebook. Namun, literasi kan nggak cuma baca melainkan juga memahami apa yang dibaca sehingga nggak langsung termakan berita yang menyesatkan. Nah itu yang masih kurang dari kita

    BalasHapus
  2. Bener ih. Dulu pernah bahas ini juga di blogku. Ada yang marah2 beli di marketplace kan. Karena lemari yg dikirim katanya ga sesuai, wkwkwkw taunya itu lemari barbie dong 😂😂🤣🤣🤣 saking orangnya malas bacaaaaa

    BalasHapus
  3. Kadang suka kesel sendiri juga, jelas2 judul film udah ditulis eh kolom komentar masih penuh aja pada nanya judulnya apa.
    Hhee, ya itulah kenyataannya. Sukanya pada buru2, ga mau merhatiin dulu.

    BalasHapus
  4. Sepalat dama Kak Zen di atas. Waktu itu sedang diskusi dengan guru yang sedang mengusahakan saung literasi ada di sekolah. Guruku bilang, kalau literasi itu cukup luas. Tidak hanya menyoal membaca dan membaca buku saja.
    Butuh pemuda penggerak literasi ini. Karena masa depan di tangan para pemuda saat ini.

    BalasHapus
  5. Wah saatnya kita bersinergi untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Mungkin hal ini bisa dimulai dari meningkatkan kemampuan literasi di keluarga. Misalnya dengan mengenalkan minat baca kepada anak kita.

    BalasHapus
  6. Mungkin data terakhir yang mereka punya data minat baca buku fisik. Klo digital kayaknya Indonesia udah melek banget. Secara platform menulis digital sekarang udah cukup banyak. Blogger juga jumlahnya udah lebih banyak dari tahun kemarin. (lupa baca dimana).

    BalasHapus
  7. Temanku juga tuh malas baca. Pas aku transfer gaji ke dia, dia ga baca rincianku eh tanya ini itu trnyata udah aku bayarkan semua. Kadang memang kita harus sedikit memberi teguran agar sekeliling yg malas baca bisa tersadar

    BalasHapus
  8. Tingkat baca yang rendah mungkin karena dari kecil dibiasakan cuma bisa skill baca.. tapi tidak diajari untuk memahami bacaan dan menyampaikannya kembali ya.

    BalasHapus


  9. Duh....mau pengakuan dosa nih...
    Sy pribadi jg pnurunan membaca, khususnya buku fisik🤦 (jgn ditiru) he he he

    BalasHapus
  10. Wah sayang sekali ya kak, minat baca yang sangat rendah namun menjadi pengguna internet terbanyak. Literasi digital semoga mendorong agar memiliki minat baca yang besar

    BalasHapus
  11. Miris juga ya, soal cuitan dan media sosial Indonesia punya peringkat yang lumayan bagus, tapi tingkat literasinya rendah. Kadang suka cek Twitter juga, ada sebagian cuitan yg mendidik tapi lebih banyak yang isinya hoaks aja

    BalasHapus
  12. Rendahnya literasi membuat hoax sangat mudah beredar di Indonesia..

    BalasHapus
  13. Setuju. Ketika buku, majalah, koran dan lain-lain berubah jadi digital, berbentuk gambar dan video, minat baca pun berubah.

    BalasHapus
  14. Ancaman terbesar saat ini memang media fake news versus media valid. Banyak orang hanya memperhatikan judul dan terus menyimpulkan isinya. Memang semua harus bersinergi untuk mengantisipasi jurang ini sih. Balik lagi pola asuh juga mempengaruhi minat dan kebutuhan baca..

    BalasHapus
  15. em....bener banget emang kita tuh susah banget untuk membaca lengkap dan ga sepotong-ptong. Baru baca separagraf padahal masih clickbait uda tarik kesimpulan aja

    BalasHapus
  16. Saat minat baca rendah, maka kita perlu waspada masuknya berita2 bohong.
    Karena untuk menyaring informasi akan susah akibat malas membaca.
    Semangat terus ngeblognya ya kak

    BalasHapus
  17. Minat baca emang butuh dipupuk, ya. Butuh sekedar model dan pembiasaan bagi kita. Apalagi ruang diskusi yang luas buat nambah insight bacaan kita. Ruang yang dimulai di keluarga. Sayang, hal ini masih jadi pr buat kita..

    BalasHapus
  18. Hiks, apalagi masih banyak yang asal baca judul, terus langsung seolah tahu isinya, bikin kesimpulan sendiri gitu

    BalasHapus
  19. Sayang ya kalai keaktifan masyarakat Indonesia tidak diiringi dengan literasi digital yang dimiliki. Akibatnya jadi banyak hoax, twittwar dan huru hara di sosial media.

    BalasHapus
  20. Pantas saja hoax tubuh subur di sekitar kita ya mba..karena kita memang masih di taraf darurat literasi termasuk literasi digital ini..hiks..

    BalasHapus
  21. Betul banget mba, salah satu penyebab rendahnya minat baca juga karena kurangnya ketersediaan buku yang berkualitas. Ini aku rasakan banget di desaku

    BalasHapus
  22. Aku juga sudah sering nulis isu tentang minat baca orang Indonesia. Dan faktanya itu sebenernya justru minat baca cukup tinggi, cuma kebanyakan malas mengkritisi informasi. Kebanyakan hanya membacs tanpa mau paham makna yg dibaca.

    BalasHapus
  23. Wah dapat insight banyak nih tentang dunia literasi. Ternyata literasi bukan sekedar tentang membaca buku aja ya. Sedih juga dengan peringat membaca negeri kita. hiks peringkat 2 tapi dari bawah. Tingkat cerewetnya justru masuk lima besar ya ..
    Aku sepakat nih, viral belum tentu benar, tapi viralkan kebenaran. Next aku juga mau ikut gabung kelas growth ..

    BalasHapus
  24. Walaupun kebanyakan orang sudah beralih ke digital, menurutku buku masih menjadi menarik bagiku. karena kalau baca di hp kadang suka buka2 yang lain, berbeda dengan buku bisa lebih fokus.

    BalasHapus
  25. Kesel sih sama brrita yang menyudutkan pihak tertentu

    BalasHapus
  26. Hindadi opini yang terpolarisasi alias objektif. Nggak mudah memang dan pastinya butuh waktu karena informasi tambahan yang bisa dijadikan pembanding akan banyak.

    Melek literasi digital memang penting. Eh, butuh deng.

    BalasHapus
  27. Sebagai blogger kita punya besar juga ya untuk membangun budaya literasi digital yang baik, ya dengan baca tulisan blogger salah satunya. Aku setuju dengan tips2nya. Viral blm tentu benar, bahkan yg kata org viral aku suka ketinggalan mulu.

    BalasHapus
  28. Sama kita kak"yang viral belum tentu benar" memang biasanya ada akun-akun buzzer yang sengaja di setting buat memviralkan suatu berita atau informasi tertentu. Makanya sebaiknya ceki-ceki dulu sebelum sharing dan percaya

    BalasHapus
  29. Literasi digital ini isu yang krusial banget kalo menurutku Mbaa. .. Di lingkaran kecil terdekat, kayak keluarga aja masih banyak kok yg kurang literasi nya, masih sering share berita2 hoaks di WAG dan malas membaca sampe akhir, jadinya berasumsi deh

    BalasHapus
  30. Karena rentang perhatian orang sekarang juga makin pendek ya rasanya, jadi untuk berlama-lama mencerna dan mencari tahu terlebih dahulu sebelum menerima (dalam arti mengiyakan, menyetujui) kemudian meneruskan informasi pun kadang pada beralasan nggak telaten.

    BalasHapus
  31. bener nih, mbak. Sekarang masyarakat +62 kebanyakan malas sekali membaca dan sangat mudah menjadi korban hoaks. Itulah kenapa literasi itu sangat penting di lakukan supaya mudah mencegah dari namanya hoaks

    BalasHapus
  32. Viral belum tentu benar,setuju banget! Tapi mirisnya masayarakat apalagi maaf, dengan tingkat pendidikan yang rendah biasanya cepat menyerap informasi tanpa disaring dulu.

    BalasHapus
  33. Moto nya mantep kaa“Viral Belum tentu Benar. Kebanyan mah sekarang viraaal dulu masalah benar hihi nomer kesekian.

    BalasHapus
  34. Berul banget mbak, literasi yang baik pastinya akan memberikan kualitas tulisan yang baik pula :)

    BalasHapus
  35. Tahun in8 memang ternyata sedang gencar-gencarnya menggaungkan literasi digital ya. Dan bukan cuma 1 literasi aja.

    Semoga Indonesia bisa meningkatkan bukan hanya dunia baca, tapi juga hal lain yang bermanfaat ya mbak. Bukan cuma hal-hal viral yang unfaedah, huhu..

    BalasHapus
  36. Sebagai blogger berarti kita kudu ngasih contoh tentang literasi digital yg baik ya? Wah tugas menantang nih. Hehe

    BalasHapus
  37. Sebenarnya nggak begitu setuju sih kalau minta baca di Indonesia 1 banding 1000. Miris banget ya. Mungkin orang-orang yang disurvey itu acak dan memang mereka nggak begitu suka membaca.

    BalasHapus
  38. Bener mbak literasi digital ini sangat penting...sekadar beli di online shop juga banyak cerita padahal jelas di deskripsinya tapi masih nanya di chat. Literasi digital juga penting supaya kita ga tenggalam di tsunami informasi jaman now ya

    BalasHapus
  39. Aku pun baru sadar bahwa literasi digital wajib di gaungkan agar lapisan masyarakat kita setidaknya paham dan jadi bijak bermain media sosial.

    BalasHapus
  40. Artikel Males Baca Tapi Cerewet di Medsos ini nyentil bgt ya, klo aku mulai dari ngenalin buku ke anak sjak bayi nih mba, otomatis kitabjdi makin rajin membaca juga

    BalasHapus
  41. jurang terbesar saat ini justru adalah soal kepercayaan masyarakat terhadap media fake news versus media yang valid.

    Kenapa kalimat ini bikin aku nyesek ya mbak. Kelihatan banget kalau masyarakat kita suka gampang termakan hoax. Makanya nilai literasi digitalnya rendah. Miris ya

    BalasHapus
  42. jurang terbesar saat ini justru adalah soal kepercayaan masyarakat terhadap media fake news versus media yang valid.

    Kenapa kalimat ini bikin aku nyesek ya mbak. Kelihatan banget kalau masyarakat kita suka gampang termakan hoax. Makanya nilai literasi digitalnya rendah. Miris ya

    BalasHapus
  43. setuju banget mba. kadang orang yang kurang literasi digital itu juga bisa jadi ancaman bagi orang lain.

    BalasHapus
  44. Catat nih mba, kita harus membuat konten yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengerikan sekali jika postingan yang kita share ternyata sumbernya tidak valid. Memang penting banget nih belajar Literasi Digital.

    BalasHapus
  45. Indonesia masih parah bgt tentang literasi digitalnya ya kak.
    Hoax dimana mana euy


    Tapi kita ga boleh patah semangat buat sebatik literasi yg baik sbg blogger ya mbak. Peran kita dibutuhkan juvaa

    BalasHapus
  46. Iya ya orang Indonesia termasuk yang malas membaca.. kadang di artikel itu sudah dijelaskan secara lengkap tapi masih aja ada pertanyaan yang sebenarnya sudah ada jawabannya di artikel tersebut

    BalasHapus
  47. Sedih banget si memang kalo mau mengakui koperasi digital kita rendah banget padahal termasuk negara yg paling lama kontak sama dunia maya setiap harinya. Walhasil ya gitu deh asal baca judul main share ga pake tabayyun. Fake news dimana2

    BalasHapus
  48. Sekalipun banyak yang nyebar hoax, kita tetap tak gentar gencarkan konten positif ya Kak. Terima kasih sudah mengingatkan kembali pentingnya literasi digital.

    BalasHapus
  49. kemudahan mengakses internet dengan harga kuota yang saling bersaing memang memudahkan user internet semakin meningkat. awareness terhadap literasi digital jadi sangat diperlukan, kalau tidak salah langkah dalam merespon informasi digital bisa berakibat fatal ya.

    BalasHapus
  50. Wah, miris ya mb dg kondisi rakyat Indonesia yg memiliki indeks baca yg rendah. Ditambah lg daya beli buku jg rendah, klop deh. Pdhl pemerintah sdh turun tangan ya.

    BalasHapus
  51. Duh prihatin sama berita hoax di WA dan medsos, banyak yang percaya begitu saja padahal tidak ada sumbernya..terutama mamak-mamak nihh

    BalasHapus
  52. Ada banyak kejadian yang yuni temukan di medsos mengenai hoax. Kalau yuni sendiri sih, jika ada satu berita, yuni nggak buru-buru buat membagikannya. Kalau itu dirasa penting, ada baiknya mencari tahu dulu dari berbagai sumber. Kalau nggak ya paling diskip aja.

    Setidaknya memulai dari diri sendiri dulu untuk meningkatkan literasi digital kita. Agar semakin sedikit hoax yang ada. Lama-kelamaan kalau bisa nggak ada hoax sama sekali. Heheheh

    BalasHapus
  53. Alhamdulillah, setelah sekian lama beraktifitas digital, sekarang bisa dibilang termasuk cukup berani untuk mengingatkan orang lain. Terutama yang mengunggah konten-konten tidak nyaman.
    Minimal ya, menyembunyikan dari linimasa atau dinding sosmed saya pribadi dulu.

    BalasHapus
  54. Coba kecerewetan di media sosial tuh digunakan untuk menyebarkan kebaikan, tentunya bakalan istimewa ya kita semua. Sayangnya kok ya tingkat literasi digital masih rendah, percaya saja dengan yang viral dan malah memperbincangkannya.

    PR banget bagi semua orang yang sudah paham tentang lika-liku dunia digital untuk terus menyebarkan kebaikan agar orang lain yang tingkat literasi digitalnya masih rendah bisa mulai makin paham, mana yang benar, bukan lagi mana yang viral.

    BalasHapus
  55. Baru tadi ngobrol sama anak mbarep tentang kecerewetan orang Indonesia di medsos. Udah gitu masih belum bisa ngebedain mana dunia nyata dan dunia tipu tipu pula. Dan sebagian besar mereka adalah perempuan. Sedih aja sih

    BalasHapus
  56. Literasi memang luas cakupannya ya mbak, nggak cuma baca aja. Aku pun kadang heran misal ada konten yang nilai edukasinya dikit, tapi justru viral dan diikuti banyak orang. Harus pandai-pandai memilah informasi di media digita,l ya mbak

    BalasHapus
  57. Sedih memang kalau udah bicara fakta minat baca orang indonesia ini Mba, sebagai Ibu jadi PR sendiri biar anak saya suka membaca. Dan yang paling pnting ngga mudah termakan hoax belaka

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhirnya, Berani Berwisata Lagi (Air Terjun Klenting Kuning) di Kabupaten Semarang

  Awal Mula Berwisata Kembali Sudah beberapa bulan ini sejak Februari 2020, aku dan keluarga berada di rumah saja. Sudah penat rasanya. Ingin rasanya berjalan-jalan berwisata seperti yang sering kami lakukan saat akhir pekan.  Sekarang sudah masuk bulan September 2020, jadi sudah 6 bulan. Waktu yang terasa sangat lama. Kami benar-benar tidak pergi keluar kota bahkan ke mall pun tidak. Anak-anak pun benar-benar di rumah saja. Sekolah juga hanya via daring.  Ayahnya sebenarnya sudah kerap kali mengajak kami untuk berwisata. Wisata yang pada akhirnya hanya berputar-putar saja keliling kota atau ke kota sebelah namun benar-benar tidak turun dari kendaraan. Fiuh apa asyiknya seperti itu. Semangat kami langsung ciut ketika mendapati penuhnya parkiran tempat-tempat wisata tersebut dan banyaknya orang-orang berlalu lalang tanpa masker.  Tetapi akhirnya hari minggu kemarin 6 September 2020, sang ayah kembali mengajak kami keluar rumah. Aku pun sudah pesimis saja, pasti hanya berputar-putar saja

Selamat Datang Vaksin Virus Corona untuk Indonesia

Andaikan vaksin virus corona telah tersedia jauh-jauh hari, tentunya kita tidak akan pusing dan merasa takut yang berlebihan dengan corona seperti setahun terakhir ini. Untungnya banyak negara dan perusahaan farmasi berlomba-lomba dan giat untuk menciptakan vaksin untuk covid-19.  Sudah banyak nama-nama vaksin covid-19 yang siap beredar disebutkan pada berita seperti   vaksin moderna , vaksin Bio Farma (Persero), vaksin Astra Zeneca-Oxford, vaksin Sinopharm, vaksin Pfizer-BioNTech, dan vaksin Sinovac. Indonesia pun akan menggunakan keenam jenis merk vaksin ini. Bahkan vaksin Sinovac sudah datang masuk ke Indonesia pada tanggal 6 Desember 2020. Tiap-tiap vaksin mempunyai harga yang berbeda-beda. Begitupun dengan efek samping yang menyertainya. Bahkan bagi yang memiliki alergi disarankan juga untuk berhati-hati dalam memilih vaksin yang sesuai untuk tubuhnya.  Sumber gambar : www.pixabay.com Tak terasa sudah hampir setahun covid-19 bersama kita. Dalam hitungan hari pun tahun juga

Balada Si Roy, Film Layar Lebar Perdana IDN Pictures

  Jangan percaya terhadap cinta, karena itu akan menjajah hidup kamu! begitu kata Roy. Seorang petualang jiwanya tidak bisa dimiliki, karena dia butuh inspirasi. Kalau jiwanya sudah diikat, berarti dia akan beku dan mati. Baginya, cinta bukan berarti harus menjadi jangkar dalam hidupnya. Balada Si Roy ke Layar Lebar November 2020 lalu, IDN Pictures telah mengumumkan bahwa akan mengangkat Novel lawas Balada Si Roy ke layar lebar sekaligus menjadi proyek perdananya dengan Fajar Nugros sebagai sang sutradara dan Susi Susanti sebagai produsernya. Sumber : IDN Media Bagi generasi milenial atau pun generasi Z tentunya mungkin masih terdengar asing dengan novel yang berjudul Balada Si Roy. Padahal novel Balada Si Roy ini sangat terkenal di masa tahun 80-90an.  Coba deh kamu tanya ke Ibu/Bapak kamu atau tante/om kamu pasti tau tentang kisah Balada Si Roy ini. Novel lawas Balada Si Roy ini merupakan karya dari Gol A Gong yang merupakan nama pena dari  Heri Hendrayana Harris , seorang sastrawan

Hidup di Perantauan (Part 2)

Pada artikel sebelumnya Hidup di Perantauan (Part 1), aku sudah sharing 2 tips ala diriku Angrumaoshi cara bertahan hidup di Perantauan. Masih mau merantau? Sudah siapkah merantau? Berikut aku tulis ulang ya keseluruhan tips supaya teman-teman tidak terlupa. 5 Tips Cara Bertahan Hidup di Perantauan Ala Angrumaoshi. Make a  friend (Perbanyak kenalan). Prepare your savings (Siapkan dana darurat). Know your new place (Kenali daerahmu). Less Goods is Good (Perhatikan efisiensi dan efektifitas barang yang dimiliki). Learn the Language (Belajar bahasa lokal).  3. Know your place (Kenali Daerahmu) Via Google Maps dan Google Earth Di era digital seperti ini, sangat terbantu ya untuk mengenal daerah tujuan rantau kita, bahkan sebelum kita menginjakkan kaki disana. Kita dapat memanfaatkan google maps termasuk juga google earth. Kita dapat melihat-lihat situasi secara real di lokasi daerah rumah tempat kita tinggal di perantauan.  Begitu pula kita dapat melihat fasilitas umum terdekat seperti rum

Tempat Hang Outku di Pringsewu Kota Lama Semarang bersama Blogger Gandjel Rel

Sebenarnya aku sudah tidak asing dengan restoran #pringsewu ini. Pringsewu group ini, restorannya tersebar di sepanjang jalur pantura dan saat ini juga tersebar di sepanjang jalur rest area tol trans jawa. Aku biasa makan di pringsewu rest area atau tegal/pemalang ketika perjalanan semarang-jakarta begitu pula sebaliknya. Namun aku baru mengetahui kalau ada pringsewu juga di kota lama Semarang ini. Pertama kali aku mengetahuinya saat berkunjung ke Sam Pho Kong dan diberikan voucher diskon saat akan meninggalkan lokasi. Aku pun penasaran ingin mencoba. Gayung pun bersambut, tak lama ada undangan dari komunitas keren #GandjelRel yang akan berulang tahun ke4 dirayakan disana. Aku sebagai member baru yang baru join, senang sekali plus dapat menghilangkan rasa penasaranku dengan pringsewu yang di kota lama ini. Aku sebenarnya adalah pendatang di kota lunpia ini dan sudah jatuh cinta dengan kota ini. Kota lama yang apik dengan taman sri gunting untuk foto-foto, di sebelah ge

Angrumaoshi.com, Tempatmu Bercerita Kehidupan

Aku rutin menulis itu, dimulai 3 tahun yang lalu. Bukan menulis laporan atau riset di kala bekerja, namun menulis tentang apa yang ada di pikiranku tentang kehidupan di sekitarku. Tentang pikiran orang-orang memandang kehidupannya. Kutuangkan semua di blog aku, angrumaoshi.com. Tempatmu bercerita kehidupan, disitulah aku menyimak dan menuangkannya ke dalam tulisan penuh makna, -angrumaoshi.com- Hidup di Perantauan   Tahun 2017, aku pindah ke Semarang. Di Semarang ini bisa dibilang aku tidak punya kenalan siapa pun. Aku ikut merantau ke kota lumpia ini bersama suamiku, karena Suamiku dipindahtugaskan di kota ini. Aku pun melepas kehidupanku di Jakarta meninggalkan semua teman-temanku di sana dan bisa dibilang aku memulai hidup baru disini memulai dari nol.  Peran ku pun berubah dari yang sebelumnya seorang working mom suka lembur dan terbang ke sana ke mari menjadi seorang full time stay at home mom dengan dua anak yang masih berusia dibawah 3 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana perubahan

Narasi dari Papua, Sebuah Sumbangsih Freeport Indonesia kepada Masyarakat Papua

Siapa yang tak kenal dengan PT. Freeport Indonesia. Hampir semua orang mengetahui tentang perusahaan tambang besar di bumi papua Indonesia ini. PT Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang terkemuka di dunia yang melalukan eksplorasi, menambang, dan memproses bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia.  Walau hampir semua orang mengetahui PT Freeport Indonesia, namun belum tentu mengetahui tentang kontribusi Freeport baik kepada masyarakat langsung di sekitar lokasi tambang atau pun kontribusi dalam rangka meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan.  Berdasarkan sifatnya, kegiatan pertambangan bagaimanapun akan memberikan dampak terhadap lingkungan. Tapi Freeport Indonesia telah melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak tersebut dan memastikan dampak tersebut tidak berlangsung dalam jangka waktu lama. Untuk itu Freeport Indonesia berkomitmen untuk melakukan identifikasi, memahami, mem

The Teacher, Nonton Streaming Film Indonesia di STRO

Hari Jumat tanggal 8 Januari 2020 kemarin, aku menonton film "The Teacher" dengan menggunakan layanan streaming di  STRO.TV - Stream ON! . Kupikir awalnya ini film serius yang bercerita tentang seorang guru.  Namun ketika aku menonton filmnya setelah sebelumnya telah menyimak trailernya, ternyata ini film komedi yang kocak banget.  Cocok ditonton bersama keluarga, walau bagi anak-anak  yang ingin menonton ini tetap harus didampingi oleh orang tua ya, karena film ini merupakan jenis film BO (Bimbingan Orang Tua). Film ini bercerita tentang seorang polisi wanita yang sedang menyamar menjadi seorang guru di suatu sekolah elite guna dapat membongkar jaringan narkoba disana.  Siapa pun di sekolah tersebut patut dicurigai, mulai dari para guru, murid hingga wali murid. Film Teachers dibintangi oleh Yova Gracia (Agnes, seorang polisi wanita yang sedang menyamar menjadi guru) & Estelle Linden (Meg, wali kelas 4A) . Film ini juga didukung oleh para comedian senior sebut saja

Terima Kasih Squad Blogger ODOP

Entah kata apa yang dapat kuucapkan kepada seluruh anggota Squad Blogger ODOP.  Naik turun semangat selama mengikuti kelas ini selalu dapat terpacu dengan adanya teman-teman semua.  Tugas yang nampak mudah namun sulit untuk dikerjakan.  Pentingnya prioritas serta menjunjung tinggi komitmen awal saat ikut ambil bagian menjadi Squad Blogger ODOP selalu kuingat.  Semangat teman-teman member Squad Blogger ODOP benar-benar menular.  Aku awalnya sempat kurang semangat karena merasa tertinggal dengan tingkat literasi digitalku di dunia blog masih jauhlah jika dibandingkan para blogger senior di Squad Blogger ODOP.  Namun ternyata para member Squad Blogger ODOP ini benar-benar baik hati, tidak sombong dan suka menolong serta sabar.  Aku pun menjadi terpacu dan tidak malu bertanya apa pun di kelas ini, termasuk untuk pertanyaan yang sangat mudah sekalipun.  Aku hanya dapat mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas segala sharing ilmu , atas segala jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku seputar