Langsung ke konten utama

Toleransi di Indonesia Saat Ini

Toleransi di Indonesia saat ini, kurasakan semakin memudar. Toleransi yang dulu semenjak kecil digaungkan baik melalui pendidikan formal di sekolah atau melalui praktik sehari-sehari di kehidupan nyata pada sekitarku, sangat mudah ditemukan dan kurasakan. 
Namun kini setelah aku dewasa, berkeluarga dan di masa reformasi yang telah lebih dari 2 dekade ini, toleransi ini entah seperti menguap. Perbedaan-perbedaan kecil dibuat semakin meruncing. Bahkan yang pada awalnya kita tidak merasakan perbedaan itu dibuat merasa bahwa kini kita berbeda. 
sumber : www.pixabay.com
Aku jujur sedih. Mengapa sekarang menjadi seperti ini. Entah mengapa perbedaan pandangan politik dapat berujung pada ketidakharmonisan hubungan keluarga. Entah mengapa pula perbedaan agama atau bahkan dalam agama yang sama juga dapat menimbulkan friksi-friksi dalam hubungan antar manusia. Semuanya merasa pilihannya adalah yang paling benar. Berbeda berarti salah. 
Aku mengalami sebelum masa reformasi walau saat itu masih anak-a…

Toleransi di Indonesia Saat Ini

Toleransi di Indonesia saat ini, kurasakan semakin memudar. Toleransi yang dulu semenjak kecil digaungkan baik melalui pendidikan formal di sekolah atau melalui praktik sehari-sehari di kehidupan nyata pada sekitarku, sangat mudah ditemukan dan kurasakan. 

Namun kini setelah aku dewasa, berkeluarga dan di masa reformasi yang telah lebih dari 2 dekade ini, toleransi ini entah seperti menguap. Perbedaan-perbedaan kecil dibuat semakin meruncing. Bahkan yang pada awalnya kita tidak merasakan perbedaan itu dibuat merasa bahwa kini kita berbeda. 

sumber : www.pixabay.com

Aku jujur sedih. Mengapa sekarang menjadi seperti ini. Entah mengapa perbedaan pandangan politik dapat berujung pada ketidakharmonisan hubungan keluarga. Entah mengapa pula perbedaan agama atau bahkan dalam agama yang sama juga dapat menimbulkan friksi-friksi dalam hubungan antar manusia. Semuanya merasa pilihannya adalah yang paling benar. Berbeda berarti salah. 

Aku mengalami sebelum masa reformasi walau saat itu masih anak-anak. Aku pun mengalami era reformasi yang sudah berjalan lebih dari 20 tahun ini. Tapi dulu toleransi kurasakan sangat tinggi. Baik itu toleransi antar umat beragama, toleransi atas perbedaan pandangan politik dan tidak diperlukan sama sekali toleransi di dalam agama yang sama. 

Namun kini, semua itu berubah. Anak-anak SD pun, rasanya kini juga miskin rasa toleransinya. Berbeda dengan dirinya maka menganggap yang lain itu salah. Fatal sekali bukan jika generasi muda kita tidak dapat bersikap dengan bijak dalam menemui segala perbedaan yang ada di dalam kehidupan ini. Mau menjadi apa negeri ini ke depannya jika tidak dapat bertoleransi terhadap yang "berbeda" dengan diri atau golongannya. 

Belajar toleransi ini sedikit banyak kudapatkan melalui pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) saat kecil dahulu, namun untuk praktek nyatanya aku ketahui ketika belajar Sejarah Negara Indonesia ini. Bahwa Negeri Indonesia ini dapat merdeka karena memiliki rasa toleransi yang sangat tinggi. Bayangkan berbeda-beda suku, agama, pulau, budaya tetapi semuanya bersatu demi mencapai kemerdekaan melawan penjajah. 

Sumpah Pemuda adalah salah satu contohnya. Tidak ada yang merasa lebih dan mengklaim bahwa kemerdekaan negeri ini karena tumpahnya darah perjuangan yang lebih besar dari salah satu agama atau suku. Namun kini sedih sekali mendengarnya ketika ada yang mengklaimnya. 

Aku ingat sekali waktu itu aku masih SMP, aku melihat kakakku yang kuliah di universitas diwajibkan untuk mengikuti 1000 jam penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), buku-buku saku tebal mulai dari UUD 1945 hingga Tap MPR harus dibaca dan dikuasai hingga Repelita (Rencana Pemerintah Lima Tahunan), dan masih banyak lagi. 

Aku pun yang saat itu masih SMP, iseng-iseng ikut membaca dan membekas hingga sekarang. Penting sekali guna dapat mewujudkan manusia pancasila yang tidak hanya hafal di mulut saja namun mengerti esensinya dan praktek turunannya ke UUD 1945, Tap MPR, hingga ke Repelita. 

Sayang sekali ketika aku masuk SMU, PMP telah berubah menjadi PPKn (Pendidikan Kewarganegaraan) yang menurutku isinya cukup berbeda dengan PMP, pendidikan moral tidak begitu ditekankan. Ketika aku masuk kuliah pun sudah tidak ada lagi penataran P-4, ini sungguh amat sangat disayangkan. Karena menurutku ini adalah pondasi yang penting bagi calon mahasiswa yang dalam 4 tahun kedepan saat lulus akan terjun ke masyarakat.

Ketika kuliah aku benar-benar sudah tidak mengikuti lagi perkembangan (karena memang tidak ada penataran P-4 atau mata kuliah wajib tentang ini) dan tidak mengikuti lagi tentang UUD 1945 yang ternyata banyak sekali perubahan, sudah 4 kali diamandemen hingga kini. Bahkan sempat ada wacana pembukaan UUD 1945 pun mau diubah. Duh, diubah saja semuanya sekalian termasuk Pancasila tergantung selera yang sedang berkuasa saat ini. Padahal toleransi merupakan pengamalan butir-butir dari sila Pancasila. 

Apalagi ada isu baru-baru ini pelajaran sejarah juga akan dihilangkan, waduh kemunduran total. Generasi muda yang tidak mengetahui sejarah berdirinya negerinya, mau dibawa kemana negeri ini. Apakah diharapkan belajar sendiri lewat googling? Padahal banyak sekali informasi tersebar disana yang sangat bias, yang sudah bercampur dengan opini banyak orang. Untungnya hanya isu saja, tidak jadi diterapkan karena sudah menuai banyak protes dari masyarakat.

Aku sangat berharap bahwa generasi muda Indonesia dapat mengenal negerinya lewat sejarah. Negeri yang penuh dengan rasa toleransi yang terkenal rukun dan damai, walau berbeda-beda yang hidup berdampingan. Toleransi di Indonesia saat ini benar-benar membuat diriku prihatin.

Semoga generasi muda Indonesia kini dapat membangun negeri ini dengan mengedepankan rasa toleransi yang tinggi dan mengamalkan Pancasila juga tentunya. Lalu dengan mempelajari sejarah maka akan mengetahui mengapa Pancasila dan bukan yang lain yang menjadi dasar negara dan ideologi Indonesia. Sehingga semua peraturan-peraturan perundang-undangan yang tercipta pun ada semangat Pancasila, khususnya terdapat toleransi yang tinggi di dalamnya. 






Komentar

  1. Benar, menurutku juga kebijakan-kebijakan dunia pendidikan sekarang malah terkesan mundur.

    BalasHapus
  2. Mungkin itu kenapa beda mengajar dengan mendidik ya. Kalau mengajar seperti transfer ilmu, tapi mendidik berkaitan dengan aspek lainnya

    BalasHapus
  3. Sejarah memang nggak boleh dilupakan ya. Dan selama kita beda, kita kerjasama semoga segala aspek lainnya makin maju

    BalasHapus
  4. kalau kata orang sekarang senggol dikit b*c*k, betapa sekarang banyak dari kita yang teralu sensitif sampai lupa apa yang harus kita wariskan ke genarasi muda anak-anak kita, jadi sedih liatnya

    BalasHapus
  5. Nah apalagi buatku yg angkatan tuwaaaa bgt nih, sangat merasakan besarnya perbedaan jaman dulu dan saat ini. Hehe..

    BalasHapus
  6. Bagian kalau kamu nggak memiliki pandangan yang sama maka kamu salah ini banyak yuni lihat di sekitar sini.

    Meski nggak terang-terangan. Tetap saja bagaimana menyikapi dan bergaulnya menunjukkan hal itu.

    Rasanya toleransi mulai terkikis. Meski saya percaya, masih ada yang memiliki sikap toleransi yang tinggi tentu saja.

    BalasHapus
  7. Iya Mbak kemarin Ibuku juga cerita kalau katanya pelajaran sejarah mau dihapus..rasanya sedih denger hal itu soalnya sejarah adalah salah satu pelajaran favoritku

    BalasHapus
  8. Setuju banget mbak aku pun sedih kayanya toleransi dek tu cuma kenangan masa lalu. Sekarang orang kita hal sepele aja bisa jd besar. Kesalahan kecil bisa berujung kematian. Sedih lah pokoknya liat indonesia sekarang tu

    BalasHapus
  9. Aku malah baru tahu kalo pelajaran sejarah ada rencana dihapus. Sedih ya misalkan terjadi, generasi muda pasti makin tercerabut dari akar sejarah bangsa yang adiluhung. Padahal toleransi sudah diajarkan sejak ada Sumpah Pemuda

    BalasHapus
  10. Aku juga merasa prihatin dengan kondisi saat ini. Jika kondisi seperti ini dianggap kemunduran dunia pendidikan di Indonesia maka sebagai orang tua kudu menguatkan pendidikan anak dari rumah.

    BalasHapus
  11. Setiap perayaan Hari Raya besar, pasti ada ribut-ribut. Padahal semuanya udah jelas. Bisa beribadah sesuai kepercayaan masing-masing.

    Adanya keributan buat kita semua jadi makin renggang.

    BalasHapus
  12. Kalau anakku sejak TK dan PG di sekolah umum jadi berbaur dengan anak yang beda agama dan suku, jadi terbiasa. Pas ditanya bagaimana perasaanmu dengan teman beda agama? Biasa saja hihihi jawabnya

    BalasHapus
  13. Nah, benar banget, Mbak. Suka miris juga dengan kondisi sekarang ini dimana para generasi muda banyak yang "kurang beradab". Makanya, pendidikan karakter sangat digencarkan dari berbagai lini. Sebenarnya, bisa kok, materi toleransi ini mulai ditumbuhkan sejak dini dan terus dijaga seiring tumbuh kembang anak. ketika karakter dan mindset bahwa "perbedaan itu membuat kita kaya" atau "perbedaan itu indah", insya Allah, bab tolerasi lengkap dengan pengaplikasiannya akan mendarah daging di kehidupan mereka ke depannya.

    BalasHapus
  14. Seharusnya belajar dari pengalaman bagaimana bisa belajar lebih maju tanpa harus mengorbankan hal yang sudah berjalan. Semisal tanpa harus menghapus pelajaran Sejarah yang memiliki nilai historis kebangsaan

    BalasHapus
  15. Pelajaran seperti PMP dan Sejarah itu memang kalau penyampaiannya sama dengan yang dulu-dulu, sejujurnya saja memang membosankan. Apalagi anak sekarang ya, sudah mulai terglobalisasi pandangannya. Yang lebih penting untuk dipikirkan, bukan menghilangkan pelajaran tersebut, tapi mengemasnya agar menarik untuk dipelajari. Apa gunanya teknologi hebat kan ya, tapi mengemas pelajaran yang bagus seperti pendidikan moral dan sejarah gitu aja ga bisa. Banyak app yang bisa dikembangkan untuk membuat anak-anak mencintai sejarah yg sesungguhnya amat menarik untuk diketahui banyak orang.

    BalasHapus
  16. Aamiin. Mendoakan setiap kebaikan yang terbauk ya Mba. Aku pun juga kadang heran melihat yang di sekitar. Kita sebagai orangtua atapun calon orang tua harus membimbing anak anak nantinya lebih dari rumah

    BalasHapus
  17. I feel you, mba
    Aku sangat berharap pendidikan di Indonesia lebih baik lagi, anak-anak Indonesia gak cuma pinter2 tapi juga bisa menghargai sejarah, sesama apapun agama atau etnisnya dan berbudi luhur.
    Dan yang paling penting memang pendidikan dasar dari rumah, yakni dari orangtuanya.

    BalasHapus
  18. Apalagi di zaman yang sekarang mudah sekali internet diakses, informasi bisa diakses dari banyak tempat maka makin bisa memperuncing suasana. Makin mudah kita dibentrokkan. Semoga mereka yang sadar akan hal ini bisa mengambil sikap yang baik dalam menjaga keluarganya dan mengarahkan anak2nya.

    BalasHapus
  19. Nice article , udh jarang yg bahas bgnian. Saya jg merasakan toleransi ini mengerucut semakin kecil

    BalasHapus

  20. Banyak sekali hal hal positif untuk generasi penerus yang harus di berikan sejak dini ternyata dihilangkan demi memenuhi dan mengikuti arus perkembangan zaman. Banyak adu domba di mana-mana dengan isu SARA. Sedih yaa, jalan keluar terakhir adalah keluarga yang harus menanamkan norma norma yang baik untuk anak.

    NurS

    BalasHapus
  21. Intinya saling menghargai dan tidak merasa diri paling benar, insya allah hidup aman jaya sentosa

    BalasHapus
  22. toleransi di Indonesia semenjak ada media sosial rasa-rasanya jadi berkurang gak sih?

    BalasHapus
  23. Secara umum, toleransi masih terjaga. Tapi memang ada beberapa hal yang menjadi lebih mudah terpecut api konfrontasi. adahal jika bertemu tetap baik.
    Mungkin karena politik identitas telah terlalu kuat mencengkeram dan membuat keakuan yang tinggi. Entahlah

    BalasHapus
  24. Menurut saya toleransi itu termasuk akhlak. Jadi apapun gangguannya, kalau sudah ditanamkan sejak dini, pondasi kuat, niscaya meski UUD atau P4 tiada, tetao terpatri dalam jiwa dan raga.

    BalasHapus

  25. Iya, aku juga merasakan itu. Orang lebih suka ribut dan kurang bisa teposeliro. Memang disayangkan pendidikan moral pancasila justru dihapuskan. Karena di negara kita yang majemuk ini butuh pedoman untuk pemersatu. Diantaranya lewat pelajaran pmp dan sejarah.

    BalasHapus
  26. Yess brasaaa banget. Apalagi dulu waktu kecil aq tinggal di papua,yang bisa dikatakan aku kaum minoritas..tpi toleransi sangat sangat terasaa huhu..

    BalasHapus
  27. Pengaruh medsos dan internet dimana kurangnya pilah pilih berita benar sehingga membuat kurangnya rasa toleransi

    BalasHapus
  28. Sungguh menyuarakan isi hatiku. Kenapa ya sekarang apa-apa jadinya ribut? Apa yang salah dengan perbedaan? Dulu negara kita begitu aman dan damai. Sekarang, ekstra mikir panjang kalau akan berkomentar. Padahal hanya komentar biasa yang dulu silakan aja

    BalasHapus
  29. Bener, pelajaran P-4 (atau pas zaman saya namanya PKN) dan sejarah penting banget untuk dipelajari. Anak muda harus belajar mengenal sejarah dan dasar negaranya sndiri di bangku sekolah 💪

    BalasHapus
  30. Benar, aku jg sedih banget melihat anak2 skrg semakin miskin toleransi. Pelajaran P-4 memang wajib banget untuk dipelajari. Agar anak2 skrg bisa lebih memiliki sifat toleransi, jd gak sedikit2 ribut, berantem

    BalasHapus
  31. Penting banget ya toleransi ya apalagi di Indonesia ada banyak suku, dan beda beda kebudayaan nya ya, semoga para generasi muda makin sadar tentang penting nya toleransi

    BalasHapus
  32. aku juga rindu masa lampau ketika Indonesia lagi baik-baik saja. ketika hasrat bepolitik tidak semenggebu sekarang, dan umat beragama bisa hidup saling berdampingan dengan aman dan nyaman

    BalasHapus
  33. Kalau pandangan aku ya, ilmu toleransi ini yang sudah pudar dari pribadi manusia. Toh kalau emang beda pandangan tentang politik ataupun agama, ya harus disikapi dengan open minded. Jangan terbawa emosi, kan bertukar pikiran itu baik bukan ??

    semoga aja manusia di Indonesia ini sehat semua, sehat jasmani, otak dan semuanya. Salam :)

    BalasHapus
  34. Menurutku Indonesia sedang minim toleransi sekarang, ada perbedaan sedikit bisa menjadi pertengkaran apalagi banyak yang bawa-bawa sara

    BalasHapus
  35. Semoga Indonesia makin baik ke depannya yaa...Pelajaran sejarah smg tdk dihapus.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhirnya, Berani Berwisata Lagi (Air Terjun Klenting Kuning) di Kabupaten Semarang

Awal Mula Berwisata KembaliSudah beberapa bulan ini sejak Februari 2020, aku dan keluarga berada di rumah saja. Sudah penat rasanya. Ingin rasanya berjalan-jalan berwisata seperti yang sering kami lakukan saat akhir pekan. Sekarang sudah masuk bulan September 2020, jadi sudah 6 bulan. Waktu yang terasa sangat lama. Kami benar-benar tidak pergi keluar kota bahkan ke mall pun tidak. Anak-anak pun benar-benar di rumah saja. Sekolah juga hanya via daring. 
Ayahnya sebenarnya sudah kerap kali mengajak kami untuk berwisata. Wisata yang pada akhirnya hanya berputar-putar saja keliling kota atau ke kota sebelah namun benar-benar tidak turun dari kendaraan. Fiuh apa asyiknya seperti itu. Semangat kami langsung ciut ketika mendapati penuhnya parkiran tempat-tempat wisata tersebut dan banyaknya orang-orang berlalu lalang tanpa masker. 
Tetapi akhirnya hari minggu kemarin 6 September 2020, sang ayah kembali mengajak kami keluar rumah. Aku pun sudah pesimis saja, pasti hanya berputar-putar saja meng…

Narasi dari Papua, Sebuah Sumbangsih Freeport Indonesia kepada Masyarakat Papua

Siapa yang tak kenal dengan PT. Freeport Indonesia. Hampir semua orang mengetahui tentang perusahaan tambang besar di bumi papua Indonesia ini. PT Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang terkemuka di dunia yang melalukan eksplorasi, menambang, dan memproses bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia. 
Walau hampir semua orang mengetahui PT Freeport Indonesia, namun belum tentu mengetahui tentang kontribusi Freeport baik kepada masyarakat langsung di sekitar lokasi tambang atau pun kontribusi dalam rangka meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan. 
Berdasarkan sifatnya, kegiatan pertambangan bagaimanapun akan memberikan dampak terhadap lingkungan. Tapi Freeport Indonesia telah melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak tersebut dan memastikan dampak tersebut tidak berlangsung dalam jangka waktu lama. Untuk itu Freeport Indonesia berkomitmen untuk melakukan identifikasi, memahami, membuat st…