Langsung ke konten utama

Toleransi di Indonesia Saat Ini

Toleransi di Indonesia saat ini, kurasakan semakin memudar. Toleransi yang dulu semenjak kecil digaungkan baik melalui pendidikan formal di sekolah atau melalui praktik sehari-sehari di kehidupan nyata pada sekitarku, sangat mudah ditemukan dan kurasakan. 
Namun kini setelah aku dewasa, berkeluarga dan di masa reformasi yang telah lebih dari 2 dekade ini, toleransi ini entah seperti menguap. Perbedaan-perbedaan kecil dibuat semakin meruncing. Bahkan yang pada awalnya kita tidak merasakan perbedaan itu dibuat merasa bahwa kini kita berbeda. 
sumber : www.pixabay.com
Aku jujur sedih. Mengapa sekarang menjadi seperti ini. Entah mengapa perbedaan pandangan politik dapat berujung pada ketidakharmonisan hubungan keluarga. Entah mengapa pula perbedaan agama atau bahkan dalam agama yang sama juga dapat menimbulkan friksi-friksi dalam hubungan antar manusia. Semuanya merasa pilihannya adalah yang paling benar. Berbeda berarti salah. 
Aku mengalami sebelum masa reformasi walau saat itu masih anak-a…

Bantir Hills Kabupaten Semarang di Era New Normal


Bantir Hills di Era New Normal

Bantir Hills, aku sudah lama sebenarnya mendengar nama ini dan sempat viral ya beberapa waktu yang lalu jauh sebelum masa pandemi dan era new normal ini, namun aku sendiri belum pernah kesana. Tapi akhirnya kesampaian juga nih menengok indahnya Bantir Hills walau di era adaptasi kebiasaan baru ini. 


Setelah puas bermain di Air Terjun Klenting Kuning, waktu sudah menunjukkan 15.00 sore. Kami sudah bersiap pulang dan tidak sempat berpikir akan singgah kemana-mana. Namun di perjalanan pulang ini ternyata melewati plang Bantir Hills. Kami pun akhirnya mengikuti plang tersebut.
Kami pun bertanya pada bapak-bapak yang sedang duduk di depan suatu tempat makan kecil. Ternyata benar ini pintu masuk menuju tempat wisata Bantir Hills. Tetapi mobil hanya dapat sampai disini saja. Harus parkir dan dilanjutkan dengan berjalan kaki menanjak sekita 700m. 

Waw, sang ayah pun sudah ancang-ancang memutar balik dan berterima kasih kepada bapak tersebut atas informasi yang diberikannya. Namun aku pun mencoba membujuk ayahnya anak-anak, untuk turun. "Ayo coba saja yaaa, dari parkiran ini saja sudah indah sekali pemandangannya. Nanti kalau tidak kuat ya kembali saja", ucapku serasa merajuk.

Akhirnya kami pun parkir dan turun dari mobil. Lalu membayar tiket masuk 5.000 rupiah per orang serta tiket parkir se esar 5.000 rupiah juga. Anak-anak seperti biasa tidak dikenalan tiket. 

Pemandangan nan indah terhampar luas. Walau nafas terasa tersengal-sengal karena medan yang menanjak, jika disuguhi dengan pemandangan hijau gunung di belakang kami, kebun bunga dan kebun cabai di kanan kami serta jurang di kiri kami ditambah dengan puncak gunung ungaran yang terlihat sangat jelas di depan mata, semangat kembali terpompa. Walau harus beberapa kali berhenti untuk beristirahat dan menikmati pemandangan tiada tara ini sambil menepi jika ada motor yang lewat. 




Enaknya yang naik motor, tidak usah berjalan kaki seperti kami. Ada parkirannya pula di sana. Namun ternyata pengalaman berjalan ini yang menyuguhkan pemandangan indah, jadi sayang juga kalau dilewatkan dengan naik motor. Kami pun bersyukur karena dengan berjalan kaki feelnya lebih terasa.

Di sepanjang perjalanan juga banyak sekali dijumpai kata-kata semangat, ayo sedikit lagi sampai, jangan menyerah bahkan himbauan untuk jaga jarak dan mencuci tangan pun ada. 

Sesampainya di pintu masuk, telah disediakan tempat cuci tangan, spanduk berisi himbauan yang harus dilakukan selama era adaptasi baru ini pun juga terpasang jelas disana. Bahkan nomer puskesmas, polsek terdekat juga ada. Benar-benar sudah mempersiapkan diri nih Bantir Hills dalam menghadapi era new normal ini. 


Aku sekeluarga yang sudah takjub dengan pemandangan selama perjalanan menuju pinti masuk Bantir Hills ini, ternyata disuguhi berbagai macam spot pemandangan yang lebih indah lagi setelah masuk ke dalam Bantir Hills ini. Belum termasuk pot-spot foto yang ciamik. Walau aku sebenarnya bukan penggemar foto instagramable, bagi yang senang berfoto disediakan banyak spot menarik disini dan gratis tentunya. Ada juga banyak tempat duduk dari batang pohon yang yang dipotong dan bungalow untuk sekedar duduk bersantai menikmati pemandangan yang indah ini. 


Anak-anak senang sekali berlari-lari disini. Berlomba saling memunguti buah-buah pinus yang berserakan di tanah dan menghitungnya siapa yang paling banyak mengumpulkannya. Ada juga beberapa bunga Lily disini, tapi kuingatkan anak-anak untuk tidak memetik apa pun kecuali yang sudah terjatuh di tanah. Anak-anak juga semangat sekali ke rumah kurcaci untuk berfoto ria disana.


Ah, terbayar sudah lelah berjalan sejauh 700 meter menanjak ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Penjaga tadi dibawah memberitahu bahwa Bantir Hills tutup pada jam 17.00. Padahal aku ingin menikmati sunset disini. Tapi mengingat kami harus berjalan lagi sejauh 700 meter dan anak-anak juga sudah capai sepertinya. Akhirnya kami pun bergegas meninggalkan tempat wisata dan menikmati matahari sedikit demi sedikit turun di sela-sela pegunungan sambil berjalan turun menuju parkiran.

Ah indahnya, aku baru mengetahui ternyata di sisi kaki Gunung Ungaran sebelah barat ini, banyak juga tempat wisatanya. Aku selama ini kalau ke Gunung Ungaran hanya ke wilayah Bandungan saja. Wisata di daerah Limbangan - Sumowono ini pun ternyata tak kalah indah pemandangannya. Memang wisata di Kabupaten Semarang ini banyak sekali pilihannya.

Semua foto dan video : dokumen pribadi.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Wisata Kabupaten Semarang di Era Adaptasi Kebiasaan Baru.

Komentar

  1. Wisata luar ruang juga menjadi pilihanku bila terpaksa sudah kebelet banget jalan mba..hihi.. OK deh, mesti siapin kaki utk jalan 700m PP ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Worth it mba jalan 700m PP. Aku pun belok sini berhenti karena liat di parkiran cuma ada 1-2 mobil saja. Jadi tanggunglah dan banner protokol kesehatannya juga terlihat banyak untuk saling mengingatkan.

      Hapus
  2. Aku sudah lama banget nih nggak keluar wisata. Kayaknya kalau wisata outdoor lebih baik ya dari pada indoor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau menurutku mba. Kalo ke supermarket pun juga aku cepet2 saja pengennya, anak2 juga tak pernah kuajak.

      Hapus
  3. Seru banget mbak kesana sama keluarga. Pemandangannya itu hlo yg bikin nagih pengen kesana lagi

    BalasHapus
  4. Iya mba, untungnya banyak shoot video disini jadi kalau kangen tinggal lihat videonya. Semoga menghibur ya.

    BalasHapus
  5. Seger banget kayanya nyantri di banten hills ya mbak. Ijo2 semua udaranya juga seger bisa banget bilangin galau dan stres. Mau juga ah ke sana pankapan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hijaaaaau dimana-mana sejauh mata memandang. Indah sekali disini pemandangannya. Jangan lupa bawa minum, gak ada yang jualan soalnya.

      Hapus
  6. Masya Allah, indah bangeeeeet, Mbak view-nya. Aku malah belum pernah nih ke Bantir Hills. Bakalan puas deh jeprat-jepret di sana. Insya Allah, kapan-kapan ke sana ah ngajak suami dan keluarga besar. Biar sekalian olahraga bareng. Jalan kaki dengan hati gembira. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puas mba foto-foto namun spot fotonya tidak sebanyak saat masih baru dulu sepertinya.

      Hapus
  7. Ya Allah liat pemandangan yang ijo-ijo dna ada hutan pinusnya tuh emang nyenengin banget....jadi pengen main kesana juga secara belum pernah hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan lupa siapkan air minum dan bawa cemilan ya. Tempat sampah banyak juga disini jadi bisa membuang sampah pada tempatnya.

      Hapus
  8. Aku kepengen main ke hutan pinusnya nih mbaaa... Huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buanyaaak buah pinus berguguran disini. Anak-anakku semangat banget ngumpulinnya walau abis itu gak dibawa pulang juga. Hehehe.

      Hapus
  9. Seruuu kalo jalan kaki memang ya, di antara napas yang tersengal, ada view kece sepanjang perjalanan. Aku loh sering lewat depan nya kalo nemenin suami ngurus kerja, tapi belum ada kesempatan mampir kesana. Cuma dengar cerita teman dan anakku yang udah pernah kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga mba udah lama banget dengernya baru kesampaian kemarin. Aku memang biasanya datengin tempat kalau sudah lewat masa viralnya supaya gak gitu rame.

      Hapus
  10. Pemandamgannya bikin adem kayak hawanya yang juga sejuk. Jalannya lumayan, kayaknya bisa bikin langsing, tuh. Heuheu. Masukkin ke list bucket traveling, ah. Murah meriah bisa pepotoan banyak.

    BalasHapus
  11. Asyik banget Mbak, pemandangan kece, udaranya seger.

    Aku suka wisata alam karena lebih terasa penjelajahannya, apalagi biasanya harga tiket lebih murah, meskipun lebih capek juga ��

    BalasHapus
  12. Senang ya melihat anak-anak berlarian dan memunguti berbagai benda alam yang ditemukan di Bantir Hills. Bisa menjadi pengalaman yang berarti bagi memori masa kecil mereka, plus menjaga kedekatan dengan orangtuanya.

    BalasHapus
  13. Pemandangannya indah ya nggak sia-sia jalan kaki lumayan jauh hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhirnya, Berani Berwisata Lagi (Air Terjun Klenting Kuning) di Kabupaten Semarang

Awal Mula Berwisata KembaliSudah beberapa bulan ini sejak Februari 2020, aku dan keluarga berada di rumah saja. Sudah penat rasanya. Ingin rasanya berjalan-jalan berwisata seperti yang sering kami lakukan saat akhir pekan. Sekarang sudah masuk bulan September 2020, jadi sudah 6 bulan. Waktu yang terasa sangat lama. Kami benar-benar tidak pergi keluar kota bahkan ke mall pun tidak. Anak-anak pun benar-benar di rumah saja. Sekolah juga hanya via daring. 
Ayahnya sebenarnya sudah kerap kali mengajak kami untuk berwisata. Wisata yang pada akhirnya hanya berputar-putar saja keliling kota atau ke kota sebelah namun benar-benar tidak turun dari kendaraan. Fiuh apa asyiknya seperti itu. Semangat kami langsung ciut ketika mendapati penuhnya parkiran tempat-tempat wisata tersebut dan banyaknya orang-orang berlalu lalang tanpa masker. 
Tetapi akhirnya hari minggu kemarin 6 September 2020, sang ayah kembali mengajak kami keluar rumah. Aku pun sudah pesimis saja, pasti hanya berputar-putar saja meng…

Narasi dari Papua, Sebuah Sumbangsih Freeport Indonesia kepada Masyarakat Papua

Siapa yang tak kenal dengan PT. Freeport Indonesia. Hampir semua orang mengetahui tentang perusahaan tambang besar di bumi papua Indonesia ini. PT Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang terkemuka di dunia yang melalukan eksplorasi, menambang, dan memproses bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia. 
Walau hampir semua orang mengetahui PT Freeport Indonesia, namun belum tentu mengetahui tentang kontribusi Freeport baik kepada masyarakat langsung di sekitar lokasi tambang atau pun kontribusi dalam rangka meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan. 
Berdasarkan sifatnya, kegiatan pertambangan bagaimanapun akan memberikan dampak terhadap lingkungan. Tapi Freeport Indonesia telah melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak tersebut dan memastikan dampak tersebut tidak berlangsung dalam jangka waktu lama. Untuk itu Freeport Indonesia berkomitmen untuk melakukan identifikasi, memahami, membuat st…

Toleransi di Indonesia Saat Ini

Toleransi di Indonesia saat ini, kurasakan semakin memudar. Toleransi yang dulu semenjak kecil digaungkan baik melalui pendidikan formal di sekolah atau melalui praktik sehari-sehari di kehidupan nyata pada sekitarku, sangat mudah ditemukan dan kurasakan. 
Namun kini setelah aku dewasa, berkeluarga dan di masa reformasi yang telah lebih dari 2 dekade ini, toleransi ini entah seperti menguap. Perbedaan-perbedaan kecil dibuat semakin meruncing. Bahkan yang pada awalnya kita tidak merasakan perbedaan itu dibuat merasa bahwa kini kita berbeda. 
sumber : www.pixabay.com
Aku jujur sedih. Mengapa sekarang menjadi seperti ini. Entah mengapa perbedaan pandangan politik dapat berujung pada ketidakharmonisan hubungan keluarga. Entah mengapa pula perbedaan agama atau bahkan dalam agama yang sama juga dapat menimbulkan friksi-friksi dalam hubungan antar manusia. Semuanya merasa pilihannya adalah yang paling benar. Berbeda berarti salah. 
Aku mengalami sebelum masa reformasi walau saat itu masih anak-a…