Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Toleransi di Indonesia Saat Ini

Toleransi di Indonesia saat ini, kurasakan semakin memudar. Toleransi yang dulu semenjak kecil digaungkan baik melalui pendidikan formal di sekolah atau melalui praktik sehari-sehari di kehidupan nyata pada sekitarku, sangat mudah ditemukan dan kurasakan. 
Namun kini setelah aku dewasa, berkeluarga dan di masa reformasi yang telah lebih dari 2 dekade ini, toleransi ini entah seperti menguap. Perbedaan-perbedaan kecil dibuat semakin meruncing. Bahkan yang pada awalnya kita tidak merasakan perbedaan itu dibuat merasa bahwa kini kita berbeda. 
sumber : www.pixabay.com
Aku jujur sedih. Mengapa sekarang menjadi seperti ini. Entah mengapa perbedaan pandangan politik dapat berujung pada ketidakharmonisan hubungan keluarga. Entah mengapa pula perbedaan agama atau bahkan dalam agama yang sama juga dapat menimbulkan friksi-friksi dalam hubungan antar manusia. Semuanya merasa pilihannya adalah yang paling benar. Berbeda berarti salah. 
Aku mengalami sebelum masa reformasi walau saat itu masih anak-a…

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktifku

Tak terasa 10 hari terlaksana juga tantangan komunikasi produktifku dengan anak-anakku. Membuka wawasanku bahwa menerjemahkan teori ke dalam praktek tidak semudah membalikkan telapak tangan.Semoga komunikasiku dengan anak-anak, pasangan dan khususnya dengan diriku sendiri dapat senantiasa lancar dan produktif selalu hingga akhir waktu nanti. Dan yang terpenting konsisten selalu untuk dipraktekkan. Kalau lupa bisa baca-baca materi dan prakteknya di post sebelumnya.#AliranRasaKomunikasiProduktif
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Komunikasi Produktif (Kalimat Empati Vs Non Empati)

Aku tuh paling gemes sekali jika kakak sudah minta gendong, padahal adeknya saja masih kuat jalan. Atau jika membawa kereta dorong yang minta naik malah kakaknya, padahal itu buat si adek.Kakak memang sering berucap aku ingin dimanja, aku ingin diturutin semua keinginanku. Jadi memang permintaannya digendong itu merupakan salah satu ungkapannya ingin dimanja. Tapi kaaaan sudah besar, sudah berat badannya. Hmm... Terkadang memang keinginan untuk dimanja itu harus kita terima dan kita sambut dengan kalimat empati.Contoh (kalimat empati): Kakak kenapa minta digendong capek ya? Hayoo tadi siapa yang minta pergi kesini? Tadi sudah janji gak gendongan loh kalau mau pergi kesini. Biasanya (kalimat non empati):: Mama gak mau gendong, tadi yang minta kesini siapa. Janjinya apa tadi?

Komunikasi Produktif (Interogasi Vs Observasi)

Duh, aku itu udah bawaan dari sononya ketika berbicara biasa saja kepada siapa saja terkesan menginterogasi (kata buanyaaak temanku). Hal ini otomatis terjadi juga ketika berkomunikasi dengan anak-anakku.Berbicara dengan intonasi dan pertanyaan interogatif itu biasanya akan terlepas kontrolnya kepada orang-orang yang sudah kuanggap dekat dan nyaman. Kalau dengan yang baru kenal sih, aku akan secara sadar mengontrol intonasi dan pertanyaan interogatifku. Nah, kalau dengan anak yang pasti dekat dan nyaman kontrolnya blong nih. Bagaimana ya? Jawabannya perlu banyak latihan. Kalau lagi sadar, Kontrol ON, namun karena sudah terbiasa maka sering tidak sadar sehingga, Kontrol BLONG.Situasi :
Adik menangis dari kamar bermain.Kontrol BLONG:
Kakak, kamu ngapain adik lagi, adiknya jadi menangis seperti itu? (sambil akunya tidak bergeming, hanya berteriak dari kamar tidur).
atau...
Adik, kamu diapain lagi sama kakak? (sambil mendatangi adik dan menatap kakak tajam).Kontrol ON:
Adik, kamu berteri…

Komunikasi Produktif (Fokus pada Solusi bukan Masalah)

Mama: Kakak sudah jam segini ini, nanti kamu telat masuk sekolah, ayo cepet mandi. Mama bilang pagi-pagi tidak ada TV kalau belum beres semuanya siap untuk berangkat sekolah.
(fokus pada masalah:telat masuk sekolah)Mama: Kakak ayo mandi, cepat ya. Baju seragam sudah disiapkan disini. Makanan juga sudah siap di meja. TV mama matikan dahulu. Papa sudah siap antar kamu sekolah tuh.
(fokus pada solusi: mandi cepat, tidak nonton TV lalu bersiap berangkat sekolah dengan tepat waktu)Prakteknya kalau seperti yang pertama, kakak masih males-malesan, sepertinya di pikirannya itu telat gak pa pa. Namun ketika pakai kalimat yang kedua, lebih cepat menuju kamar mandinya.So keep in mind, focus on solution not the problem.

Komunikasi Produktif (Fokus ke Depan bukan yang Lalu)

Mama (lagi sumbu pendek): Kok ngompol lagi sih, Kak! Kemarin sudah gak ngompol, loh. Kenapa sekarang ngompol lagi? Mama capek nih cuci sprei, guling, bantalnya, pesing semua. Kakak pun tak bergeming, tiada alasan terucap dari bibirnya.Fokus mama ada pada yang lalu. Sebelumnya kakak sudah tidak ngompol namun hari ini ngompol. Seharusnya fokus ke depan. Besok-besoknya kakak tidak ngompol. Lalu ngompol lagi. Jadi masih belum stabil ini tidak ngompolnya.Papa (yang seringnya sumbu panjang): Begitu bangun pagi menghampiri adik dan kakak sambil mengecek ada yang ompol atau tidak. Lalu menggenggam kedua tangan kakak dan adik lalu mengangkat tangan kakak/adik yang tidak ngompol, sambil mengucapkan, "Pemenangnya adalah..... Adik (jika kakak ngompol, begitu pula sebaliknya). Lalu papa berkata kepada yang masih ompol. Kok masih ompol sih, semalam sudah pipis sebelum tidur semua loh. Papa bisa bantu apa supaya gak ompol lagi? Papa bangunin buat pipis ya? Semalam ada kebangun minum air ya? As …

Komunikasi Produktif (Mengatakan Keinginan)

Mengungkapkan keinginan itu sama dengan menggunakan kalimat produktif. Berhubung kakak adalah model yang harus dijelaskan alasannya dari A-Z, mengapa itu boleh dan ini tidak, mengapa itu harus dikerjakan dan ini dilarang. Sering kali penggunaan kalimatnya adalah yang tidak produktif. Karena cenderung lebih mudah menjelaskan suatu alasan mengapa hal ini dilarang atau tidak diperbolehkan, dengan harapan anak mengerti resikonya sehingga tidak melakukannya.Contoh sederhana itu, ketika kamar berantakan oleh mainan dan sisa makanan yang berserakan.Biasanya mama berkata: Ayo diberesin kamarnya. Mainannya berserakan kemana-kemana, nanti carinya susah kalau mau main lagi. Ini bungkus makanan juga masih ada di lantai, nanti semutnya dateng gigit kamu. Mama gimana bisa mau sapu ini. Sekarang berubah menjadi: Ayo kamar bermainnya harus rapi dan bersih. Mainan ada di kotak masing-masing dan juga piring/bungkus sisa makanan diletakkan di cucian piring/tempat sampah.

Komunikasi Produktif (Jelas Dalam Memberikan Pujian dan Kritikan)

Kedua anakku ini mempunyai tipe yang cenderung berbeda. Contohnya jika mama berkata sesuatu maka responsnya pun berbedaMama : "Yang ini jangan diambil ya." Maka respons kedua anakku pun berbeda.Kakak: "Kenapa tidak boleh diambil?" (sambil tetap tangannya memegang benda tersebut).Adik:"Kalau yang ini boleh, Mama?" (sambil menggeser tangannya ke benda lain disebelahnya).Perbedaan respons tersebut spontan, bukan juga karena usia yang berbeda. Karena kedua anakku cukup dekat usianya. Melihat kondisi yang berbeda seperti ini, tentunya untuk memberikan pujian dan kritik juga harus disesuaikan. Ketika memberikan pujian dan kritik kepada kakak harus benar-benar jelas alasan yang melandasi pujian dan kritik tersebut dan harus disampaikan sesuai dengan kapasitas pemahaman usia anak tersebut. Karena jika tidak paham maka anak seperti kakak akan cenderung mempertahankan pendapatnya dan terlihat tidak menuruti bahkan terkesan melawan. Padahal, bukannya kakak tidak mau…

Perkenalanku dengan Maltofer ketika Aku sedang Menyusui ASI ekslusif

Tak pernah terbayang sebelumnya kalau anakku akan terdiagnosa kekurangan zat besi alias anemia. Demi tegaknya diagnosa inj maka bayi kecilku yang beranjak menuju usia 2 tahun ini, akhirnya harus diperiksa diambil darahnya di rumah sakit yang tentunya dengan drama teriak-teriak ketakutan dan kesakitan dengan jarum suntik.  Fiuh, itulah perkenalan awalku dengan maltofer. Maltofer merupakan suplemen zat besi yang diresepkan oleh dokter anakku saat itu. Anakku yang sulit sekali untuk minum obat syrup jenis apa pun, ketika diberikan maltofer pun juga sama. Dia melakukan Gerakan Tutup Mulut. Namun obat tetap harus masuk. Setelah beberapa kali dipaksa, anakku kini malah doyan, bahkan mengingatkanku jika belum meminum obat ini. Kenapa bisa begitu? Oh ternyata ada rasa coklat di dalamnya.
Hal ini kuketahui setelah aku mengikuti acara #maltoferwomencommunity yang diadakan di Semarang beberapa waktu lalu. Pada acara ini dihadirkan dokter spesialis anak terkenal dr. Hartono Sp.A. Dokter yang ter…

Komunikasi Produktif (Ganti Kata TidaK Bisa Menjadi Bisa)

Anakku ini paling doyan nyuruh-nyuruh. Padahal sebenarnya bisa dia lakukan sendiri, tapi sukanya menyuruh orang lain untuk melakukan yang dia inginkan.

Seperti tadi pagi, Kakak mau makan makanan ringan. Namun *tidak bisa* membuka bungkusnya (menurut dia).

Aku selalu menekankan kepada anakku itu, meminta tolong jika tidak dapat melakukannya sendiri. Kalau bisa mengerjakan sendiri tapi minta tolong itu namanya menyuruh, bukan minta tolong, walau dimulai dengan kata tolong di awal kalimat.

Seperti siang ini, "Mama, aku mau ini, tolong bukain.", kata kakak sambil bawa makananya disodorin ke aku. Lalu aku pun berkata, "Kakak sudah *bisa* buka sendiri kan?".

Tapi kakak berkata, "Aku tidak bisa buka bungkusnya, Mama. Minta tolong bukain ya."

Aku pun menanggapi, "Kakak kemarin sudah *bisa/ buka sendiri loh. Tuh ambil guntingnya disana. Buka sendiri ya, pakai gunting. Kakak sudah *bisa* pakai gunting, sudah diajari di sekolah juga."
Kakak pun berucap,&qu…