Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Toleransi di Indonesia Saat Ini

Toleransi di Indonesia saat ini, kurasakan semakin memudar. Toleransi yang dulu semenjak kecil digaungkan baik melalui pendidikan formal di sekolah atau melalui praktik sehari-sehari di kehidupan nyata pada sekitarku, sangat mudah ditemukan dan kurasakan. 
Namun kini setelah aku dewasa, berkeluarga dan di masa reformasi yang telah lebih dari 2 dekade ini, toleransi ini entah seperti menguap. Perbedaan-perbedaan kecil dibuat semakin meruncing. Bahkan yang pada awalnya kita tidak merasakan perbedaan itu dibuat merasa bahwa kini kita berbeda. 
sumber : www.pixabay.com
Aku jujur sedih. Mengapa sekarang menjadi seperti ini. Entah mengapa perbedaan pandangan politik dapat berujung pada ketidakharmonisan hubungan keluarga. Entah mengapa pula perbedaan agama atau bahkan dalam agama yang sama juga dapat menimbulkan friksi-friksi dalam hubungan antar manusia. Semuanya merasa pilihannya adalah yang paling benar. Berbeda berarti salah. 
Aku mengalami sebelum masa reformasi walau saat itu masih anak-a…

Komunikasi Produktif (Konsep 7:38:55)

Apa sih konsep 7:38:55?
Hanya 7 persen saja yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi jika hanya mengandalkan suara. 38 persennya adalah intonasi suara dan ternyata 55 persen yang paling besar adalah bahasa tubuh kita.

Hmmm coba praktekin dulu deh. Biasanya aku tuh kalau meminta kakak melakukan sesuatu itu lupa deh sama konsep 7:38:55 ini.

Sebelumnya:
"Kakak ayo makan, ini udah mama siapin." (sambil meletakkan piring di meja, tapi kakaknya masih di ruang bermain).

Setelah mengerti konsep 7:38:55:
Mendatangi kakak di ruang bermain, sambil mengandeng tangan kakak menuju ruang makan. Lalu menuangkan makanan di piringnya sambil menatap mata kakak dan menyerahkannya ke tangan kakak. Sambil berkata dengan nada suara yang ramah, "Ayo makan kakak."

Yang pertama? Gagal total, 30 menit kemudian kakak masih belum makan bahkan belum beranjak dari ruang bermain.

Yang kedua? Berhasiiil, yeay.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutib…

Komunikasi Produktif (Keep Information Short and Simple)

Hmm... Keep Information Short and Simple. Pernah gak sih nyuruh anak itu puanjaaaaang. Aku sering sekali. Contohnya yang aku ingat nih, seperti ini: "Kakak, ayo mandi, air panasnya sudah dituang, baju gantinya mama udah taruh sini, handuknya ambil sendiri disana, baju kotornya langsung ditaro di tempat cucian ya. Ayo cepetan keburu airnya dingin nih."

Trus yang terjadi adalah kakak masih duduk tak menengok, sambil asyik dengan tontonan TVnya. Padahal mamanya sudah di ubun-ubun keselnya. Udah cape-cape ngomong tapi didengarkan pun tidak. Ckckckck.

Langsung ingat pelajaran pertama untuk berkomunikasi dengan anak *Keep Information Short and Simple*. Lalu kuterapkan, kuulang kembali perkataanku pada kakak.  Satu per satu pada satu waktu yang berlainan.

Hasilnya? Voila, kakak dapat melakukan yang aku minta semuanya.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

Komunikasi Produktif (Refleksi Pengalaman)

Hari ini anakku merajuk tidak mau berangkat mengaji jika setelah pulang mengaji tidak diajak jalan-jalan ke Mall. Sebenarnya aku tidak ingin meluluskan persyaratannya, mengingat pasti akan kecapaian, walau mamanya doyan ke mall juga. Namun akhirnya kuiyakan, jika bapaknya mengizinkan.

Berangkatlah kami setelah selesai mengaji ke mall, setelah sebelumnya menjemput papanya terlebih dahulu yang kebetulan tidak lembur. Sesampainya di mall, anakku yang biasanya girang, berlarian kesana kemari, kali ini tidak. Minta digendong, jongkok. Benar saja, sepulangnya dari mall akhirnya demam. Kami pun akhirnya hanya sebentar saja di mall. Padahal mamanya udah senang tuh melihat diskon bertebaran dimana-mana. Sempat kesal juga aku. Udah jauh-jauh ke mall, baru sampai pintu masuk dan mengantri makanan yang sedang diskon 60%, si kakak sudah mulai rewel.

Esoknya walau demam sudah turun, namun anakku masih mengeluh pusing dan hanya ingin berbaring saja. Menjelang siang, setelah kusuapi makan pagi, kupel…

Kebebasanku Kini... Terbelenggu...

Ketika seorang wanita menjalani peran menjadi istri dan juga seorang ibu, seketika kebebasan yang dahulu dimiliki pun ikut berubah. Setelah menjadi istri tentunya demi menggapai ridho suami maka segala sesuatu yang sebelumnya dapat diputuskan sendiri haruslah seizin suami. Karena sudah tidak ada lagi aku namun semua berubah menjadi kami.

Lain lagi ketika sudah memiliki anak. Waktu yang tetap hanya 24 jam sehari terbagi lagi dengan bertambahnya tanggung jawab baru yang luar biasa amanahnya. Seorang ibu akan memindahkan pusat dunianya dari yang sebelumnya aku lalu menjadi kami sekarang menjadi kita, keluarga inti.  Terlebih di usia anak-anak hingga balita.

Kebebasan seorang aku seakan sirna. 24 jam yang sebelumnya hanya untuk aku kini tidak bisa lagi. Bahkan terkadang 24 jam itu tak bersisa untuk seorang aku. Habis untuk anak dan suami serta seabreg peran lainnya yang menempel pada seorang wanita yang juga seorang istri, ibu, anak perempuan dari orang tuanya, dan berbagai peran lainny…

Ketika Kelinciku Pun Ikut Mudik

Kini aku tinggal di Semarang. Namun hampir setiap 2-3 bulan sekali, aku pulang ke Jakarta. Satu hal yang membuat pusing bagi para pecinta binatang yang mempunyai peliharaan di rumah adalah ketika bepergian jauh meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Seperti aku yang memelihara kelinci. Aku sudah mencari beberapa petshop disini untuk menitipkan kelinci beberapa hari selama kami pergi, namun tidak ada petshop yang bersedia. Alasannya, mereka tidak menerima kelinci karena mudah stress.



Alhasil, tidak ada pilihan lain. Setiap aku pergi meninggalkan rumah beberapa hari, kelinciku pun ikut serta. Seperti saat mudik ke Jakarta setiap 2-3 bulan ini. Aku dulu pernah mencemooh dalam hati, ketika melihat orang-orang membawa burung beserta sangkarnya di bagasi mobil ketika berhenti di rest area yang tak sengaja terlihat ketika mereka membuka bagasinya. Segitunya yah burung sampai dibawa kemana-mana. Ternyata kali ini aku yang merasakannya. Jika mereka para binatang peliharaan tersebut ditingga…

Ketika Aku Mempunyai Duo Balita

Selama aku memakai kacamata, aku mengganti kacamata itu ketika pandangannku sudah kabur pertanda minesnya sudah bertambah atau ketika kacamatanya sudah tidak layak pakai. Begitu pula ketika aku mengganti HPku, karena hilang atau sudah usang teknologinya. Jadi usia rata-rata kacamata dan HPku itu minimal diatas 2-3 tahun. Sedangkan kalau jam tangan sangat awet bisa bertahun-tahun lamanya, cukup rutin mengganti batere setiap per 1-2 tahun.
Namun ketika aku berganti status, sudah tidak single lagi dan mempunyai anak balita. Semua itu berubah. Baru genap anaknya berusia 5 tahun dan adiknya yang masih dibawah 3 tahun. Kacamata sudah 4x patah. 3 kacamataku, 1 kacamata suami dalam kurun waktu 2 tahun yang lalu.
Kalau HP bagaimana? HP sudah pecah/retak 4, 2 HPku dan 1HP suamiku serta 1HP ibuku alias eyangnya anak-anak. Saat ini pun hpku dan hp suamiku yang dipakai sudah retak. Padahal baru berusia 1 tahun. Sedangkan punya aku belum genap 1 bulan sudah retak terjatuh di tangan anak-anak. Hiks…