Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Hidup di Perantauan (Part 2)

Pada artikel sebelumnya Hidup di Perantauan (Part 1), aku sudah sharing 2 tips ala diriku Angrumaoshi cara bertahan hidup di Perantauan. Masih mau merantau? Sudah siapkah merantau? Berikut aku tulis ulang ya keseluruhan tips supaya teman-teman tidak terlupa. 5 Tips Cara Bertahan Hidup di Perantauan Ala Angrumaoshi. Make a  friend (Perbanyak kenalan). Prepare your savings (Siapkan dana darurat). Know your new place (Kenali daerahmu). Less Goods is Good (Perhatikan efisiensi dan efektifitas barang yang dimiliki). Learn the Language (Belajar bahasa lokal).  3. Know your place (Kenali Daerahmu) Via Google Maps dan Google Earth Di era digital seperti ini, sangat terbantu ya untuk mengenal daerah tujuan rantau kita, bahkan sebelum kita menginjakkan kaki disana. Kita dapat memanfaatkan google maps termasuk juga google earth. Kita dapat melihat-lihat situasi secara real di lokasi daerah rumah tempat kita tinggal di perantauan.  Begitu pula kita dapat melihat fasilitas umum terdekat seperti rum

Ketika Waktu Berjalan Begitu Cepat, Penjual Keliling Depan Rumah

Ketika pulang ke rumah mama. Banyak yang masih nampak sama. Namun ada beberapa yang kulihat menua. Tukang sate yang sering kubeli saat kukecil dulu yang masih setia berjualan berkeliling sesaat menjelang magrib. Masih kuingat dengan jelas bapak itu berbadan tegap dengan rambut hitamnya yang lebat memdorong gerobak satenya sambil membunyikan tek..tek..tek... Namun kini rambutnya sudah berubah menjadi abu-abu dan raut wajah lelah nampak jelas. Begitu pula dengan tukang bubur langgananku yang setiap pagi dengan sahutannya...buuur....buuur...buuur... Yang dulu ketika kukecil menggunakan sepeda sekarang sudah berubah menggunakan motor. Bapak ini juga rambutnya hitam lebat namun kini dipotong cepak dengan warnanya yang sudah banyak putihnya. Sangat kontras wajahnya dibandingkan dulu. Ada juga tukang susu n***onal yang dulu berjualan menggunakan sepeda yang dikayuh namun ada penutup kain diatasnya yang menutupi dirinya maupun kotak-kotak yang didalamnya berisi susu. Kini terlihat semakin tu

Ketika Wanitamu, Tak Berdaya Melawan Depresi

Jika pada posting sebelumnya sudah diulas hasil ngobrol ringan dengan Mba Ika yang pernah mengalami depresi karena ditinggal suaminya. Dan juga curahan hati Mba Indah yang mempunyai sahabat yang mengalami depresi. Kali ini saya berkesempatan mengobrol ringan dengan Mas Ale (bukan nama sebenarnya) yang istrinya pernah mengalami depresi. Berikut obrolan ringan kami: ✒Bagaimana awalnya Anda mengetahui bahwa istri Anda terkena depresi? Saya sudah mengetahuinya sebelum menikah. Saat itu dia tidak mau berangkat ke kantor selama seminggu, akhirnya diceritakan bahwa dia mengalami depresi dan dalam pengobatan. ✒Apa yang Anda lakukan ketika mengetahui dia terkena depresi? Berusaha mensupport. ✒Bagaimana perasaan Anda mengetahui calon istri terkena depresi?  Awalnya bingung karena bisa ya ada orang mengalami seperti ini, tapi kemudian berselancar di dunia maya mencari tahu apa itu depresi dan ternyata ada banyak orang di dunia ini yg mengalaminya. ✒Bagaimana pandangan Anda terha

Berduka Dapat Berujung Depresi

Kehilangan seseorang atau sesuatu yang amat sangat berarti bagi kita dapat meninggalkan duka yang teramat mendalam. Duka tersebut dapat menetap cukup lama bahkan dapat menjadi lebih dalam seiring berjalannya waktu. Namun banyak juga yang harus cepat bangkit dari keadaan berduka guna kehidupan dapat berjalan dengan normal kembali tanpa adanya seseorang atau sesuatu yang telah hilang tersebut. Tetapi bagaimana dengan yang larut dalam kesedihan hingga mempengaruhi kehidupannya. Lalu bagaimana membedakannya, apakah berduka pasti akan berujung depresi? Menurut  Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang dikatakan menderita gangguan depresi jika terdapat l ima (atau lebih) gejala telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari keadaan biasa seseorang; sekurangnya salah satu gejala harus (1) emosi depresi atau (2) kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu. Gejala-gejala tersebut adalah 

Perbedaan Depresi dan Cemas

https://youtu.be/uynf5qtSki0 Diatas adalah salah satu channel youtube favourite saya yang pastinya saya subscribe dan saya ikuti selalu postingannya. Banyak sekali pembahasan mengenai kesehatan jiwa disini yang disampaikan dari sudut pandang seorang dokter ahli jiwa namun sangat mudah dipahami dengan bahasa yang membumi. Dokternya pun lumayan good looking ya dan masih muda, jadi menontonnya pun juga enak, tanpa merasa digurui. Episode kali ini membahas tentang perbedaan antara cemas dan depresi. Kalau yang saya pahami setelah mendengarkan penjelasan beliau diatas, kunci perbedaannya terletak pada perasaan. Jika cemas, perasaan yang dominan adalah takut hingga dapat disertai gejala fisik seperti jantung beedebar-debar, ingin muntah, keringat dingin di sekujur tubuh, pikiran tidak tenang karena selalu memikirkan yang dicemaskan atau ditakutkan. Sedangkan depresi lebih kepada sudah kehilangan semangat hidup, menyalahkan diri sendiri, menyerah, cenderung diam saja, apatis terhadap lin